JATIMTIMES - Fenomena aphelion kembali menyapa Bumi pada Juli 2026. Peristiwa astronomi yang membuat Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari ini kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama setelah muncul berbagai informasi di media sosial yang mengaitkannya dengan suhu udara lebih dingin hingga dampak bagi kesehatan.
Namun, benarkah aphelion dapat menyebabkan perubahan cuaca ekstrem atau membahayakan kehidupan di Bumi? Untuk tahu jawabannya, yuk simak penjelasannya berikut ini.
Baca Juga : Daftar 5 Negara yang Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026, Spanyol Susul Maroko hingga Inggris
Apa Itu Aphelion?
Aphelion adalah fenomena astronomi ketika Bumi berada pada titik paling jauh dari Matahari dalam lintasan orbitnya.
Mengutip Time and Date, orbit Bumi saat mengelilingi Matahari tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Bentuk orbit tersebut membuat jarak antara Bumi dan Matahari tidak selalu sama sepanjang tahun.
Dalam perjalanan orbitnya, Bumi memiliki dua titik penting. Selain aphelion sebagai titik terjauh dari Matahari, terdapat pula perihelion, yaitu kondisi ketika Bumi berada pada jarak paling dekat dengan Matahari.
Meski berada di titik terjauh, perbedaan jarak Bumi dengan Matahari saat aphelion dan perihelion hanya sekitar tiga persen. Karena itu, perubahan tersebut tidak memberikan dampak langsung yang dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Kapan Aphelion Juli 2026 Terjadi?
Berdasarkan data astronomi dari Time and Date dan SpaceDaily, fenomena aphelion tahun 2026 terjadi pada 6 Juli 2026 pukul 17.30 UTC.
Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat (WIB), fenomena tersebut berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026 pukul 00.30 WIB.
Dengan demikian, masyarakat Indonesia mengalami fenomena aphelion pada dini hari 7 Juli 2026. Peristiwa ini berlangsung secara global karena berkaitan dengan posisi Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari.
Meski demikian, aphelion tidak dapat diamati secara langsung dengan mata telanjang. Perubahan jarak Bumi terhadap Matahari terlalu kecil sehingga tidak menimbulkan perubahan visual yang terlihat dari permukaan Bumi.
Apakah Aphelion Berbahaya?
Jawabannya tidak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa aphelion merupakan fenomena astronomi yang normal dan terjadi setiap tahun. Fenomena ini tidak membahayakan kehidupan di Bumi.
Baca Juga : Tangis Ronaldo Warnai Tersingkirnya Portugal dari Piala Dunia 2026
BMKG juga menegaskan bahwa aphelion tidak menyebabkan suhu udara turun secara ekstrem, tidak memicu munculnya penyakit tertentu, serta tidak berkaitan dengan peningkatan penyebaran virus.
Informasi yang menghubungkan aphelion dengan berbagai gangguan kesehatan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
Apakah Aphelion Memengaruhi Cuaca Indonesia?
Anggapan bahwa aphelion menyebabkan cuaca menjadi lebih dingin merupakan informasi yang keliru.
Menurut BMKG, kondisi cuaca di Indonesia lebih dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer, seperti angin muson, suhu permukaan laut, kelembapan udara, dan dinamika atmosfer lainnya.
Sementara itu, SpaceDaily menjelaskan bahwa pergantian musim di Bumi tidak ditentukan oleh jarak Bumi terhadap Matahari. Faktor utama yang memengaruhi perubahan musim adalah kemiringan sumbu rotasi Bumi yang menyebabkan perbedaan intensitas sinar Matahari di setiap wilayah.
Secara astronomi, saat aphelion terjadi Bumi memang berada pada jarak terjauh dari Matahari dan kecepatan orbitnya sedikit lebih lambat dibandingkan ketika berada di titik perihelion. Namun, perubahan tersebut sangat kecil sehingga tidak memberikan pengaruh yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir dengan fenomena aphelion Juli 2026. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial dan selalu mengacu pada sumber resmi maupun informasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
