JATIMTIMES - Perkembangan industri skincare diperkirakan akan memasuki fase baru pada 2026, seiring semakin kuatnya peran riset ilmiah dalam pengembangan produk perawatan kulit. Jika sebelumnya tren banyak digerakkan oleh pemasaran dan viralitas media sosial, kini para ahli menilai fokus akan bergeser pada bahan aktif yang memiliki dasar ilmiah lebih jelas dan manfaat terukur bagi kesehatan kulit.
Salah satu pendekatan yang mulai mendapat sorotan adalah pemanfaatan postbiotik, yakni senyawa hasil metabolisme bakteri baik. Berbeda dengan probiotik hidup yang cenderung tidak stabil dalam formulasi, postbiotik dinilai lebih konsisten dalam memberikan manfaat.
Baca Juga : 2026, BPJS Kesehatan Fokus Perluas Cakupan dan Keaktifan Peserta di Kabupaten Malang
Dokter kulit dr Dara Spearman menilai postbiotik berpotensi menjadi solusi untuk memperkuat lapisan pelindung kulit. “Postbiotik menawarkan efek yang lebih dapat diprediksi, terutama dalam menjaga hidrasi dan menenangkan peradangan tanpa tantangan stabilitas seperti pada bakteri hidup,” ungkap Spearman.
Inovasi juga terlihat jelas pada sektor perlindungan matahari, yakni bemotrizinol. Bemotrizinol filter UV spektrum luas yang telah lama digunakan di Eropa dan Asia, diprediksi akan semakin populer secara global.
Tak hanya itu. Kebutuhan akan bahan anti-aging yang ramah untuk kulit sensitif juga mendorong kemunculan bioretinol. Senyawa berbasis alga laut ini dikembangkan untuk meniru manfaat retinol tanpa efek samping yang kerap memicu iritasi.
Menurut Spearman, bioretinol dapat menjadi pilihan menarik bagi mereka yang tidak toleran terhadap retinoid konvensional. “Pendekatan ini memungkinkan stimulasi kolagen dan regenerasi sel dengan risiko kemerahan yang jauh lebih rendah,” terang dia.
Di sisi lain, teknologi exosome masih terus menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan kosmetik. Meski bukti klinisnya masih berkembang, exosome dinilai memiliki potensi luas, mulai dari perawatan anti-aging hingga pengendalian inflamasi.
Bahan lain yang mulai dilirik adalah malachite, mineral alami kaya tembaga yang dikenal memiliki sifat antioksidan. Paparan polusi dan radiasi UV yang memicu stres oksidatif membuat bahan ini relevan dalam perawatan kulit modern.
Baca Juga : Mas Rio Lantik Pejabat Strategis Pemkab Situbondo, Lima OPD Masih Kosong
Spearman menyebutkan bahwa riset awal menunjukkan potensi perlindungan kulit dari agresor lingkungan. “Tembaga berperan penting dalam pembentukan kolagen, sehingga malachite memiliki peluang mendukung perbaikan jaringan kulit,” imbuhnya.
Sedangkan ahli biokimia sekaligus kosmetolog Valerie Aparovich menjelaskan bahwa bahan Bemotrizinol mampu memberikan perlindungan seimbang terhadap sinar UVA dan UVB. “Bemotrizinol bekerja sangat efisien dan stabil saat terpapar sinar matahari, bahkan dapat memperkuat kinerja filter UV lain dalam satu formula,” ujar Valerie.
Sementara itu, profesor asosiasi di Drexel University College of Medicine Dr Erum Ilyas memprediksi bahwa arah pengembangannya akan semakin fokus pada keamanan. “Formulasi ke depan kemungkinan akan mengarah pada exosome sintetis atau berbasis tanaman yang lebih stabil dan berkelanjutan,” jelas Erum.
Dengan beragam inovasi tersebut, para pakar menilai 2026 akan menjadi momentum penting bagi industri skincare untuk menghadirkan produk yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga berlandaskan sains dan keamanan jangka panjang.
