JATIMTIMES - Perubahan besar sedang terjadi di dunia kerja global. Kemajuan teknologi, tekanan geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran struktur penduduk, hingga dorongan menuju ekonomi hijau diprediksi akan mengubah wajah pasar tenaga kerja hingga tahun 2030.
Gambaran ini disampaikan dalam The Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF). Laporan tersebut mengkaji bagaimana tren global memengaruhi jenis pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan, serta strategi transformasi tenaga kerja untuk periode 2025–2030.
Baca Juga : Kerap Dapat Aduan Soal MBG, Bintara Center Terjunkan 19 Tim di Tulungagung untuk Kontrol
WEF menyusun laporan ini berdasarkan survei terhadap 1.000 perusahaan besar dunia yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 22 sektor industri dan 55 negara.
22 Persen Pekerjaan Global Akan Berubah
Menurut WEF, sekitar 22 persen dari seluruh pekerjaan yang ada saat ini diperkirakan akan terdampak oleh perubahan struktural dalam lima tahun ke depan.
Di satu sisi, dunia kerja diproyeksikan menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru. Namun, di sisi lain, sekitar 92 juta pekerjaan lama juga diperkirakan akan menghilang akibat otomatisasi, digitalisasi, dan pergeseran kebutuhan industri.
Dengan demikian, secara global akan terjadi pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan baru hingga 2030. Lapangan kerja baru ini tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu yang tengah berkembang.
Bidang Pekerjaan yang Paling Dibutuhkan di Masa Depan
Berikut sejumlah sektor yang diperkirakan mengalami pertumbuhan paling signifikan:
1. Pekerjaan Garis Depan (Frontline Jobs)
Pekerjaan di sektor layanan langsung diprediksi tumbuh paling besar secara jumlah. Ini mencakup tenaga pertanian, pekerja konstruksi, pengemudi pengantaran, tenaga penjualan, hingga pekerja di industri pengolahan makanan.
Meski tidak selalu berbasis teknologi tinggi, sektor ini tetap krusial karena menyokong kebutuhan dasar masyarakat dan aktivitas ekonomi sehari-hari.
2. Kesehatan dan Pendidikan
Perubahan demografi menjadi pendorong utama. Di banyak negara maju, jumlah penduduk lansia meningkat, sehingga permintaan terhadap tenaga kesehatan seperti perawat dan tenaga perawatan profesional ikut melonjak.
Sementara itu, di negara berkembang, pertumbuhan penduduk usia muda mendorong kebutuhan akan guru, dosen, dan tenaga pendidik. Selain itu, pekerjaan di sektor perawatan seperti pekerja sosial, konselor, dan asisten perawatan pribadi juga diprediksi semakin dibutuhkan.
3. Bidang Teknologi Digital
Digitalisasi menjadi motor utama perubahan dunia kerja. Sekitar 60 persen perusahaan yang disurvei WEF menilai perkembangan teknologi akan sangat memengaruhi bisnis mereka.
Kemajuan di bidang kecerdasan buatan (AI), pemrosesan data, robotika, dan otomasi membuat pekerjaan berbasis teknologi tumbuh paling cepat. Profesi yang menonjol antara lain:
- Spesialis big data
- Insinyur fintech
- Spesialis AI dan machine learning
- Pengembang aplikasi dan perangkat lunak
4. Energi dan Transisi Hijau
Krisis iklim dan komitmen menuju ekonomi rendah karbon mendorong lahirnya banyak profesi baru di sektor lingkungan dan energi bersih.
Pekerjaan yang diperkirakan melonjak antara lain:
- Spesialis kendaraan listrik dan otonom
- Insinyur energi terbarukan
- Insinyur lingkungan
- Ahli teknologi ramah iklim.
Jenis Pekerjaan yang Diperkirakan Menurun
Sementara sejumlah sektor tumbuh, beberapa jenis pekerjaan justru diproyeksikan menyusut. Yang paling terdampak adalah pekerjaan administratif dan klerikal, seperti:
• Kasir dan petugas loket
• Asisten administrasi
• Sekretaris
• Petugas entri data
• Teller bank dan petugas layanan pos
Otomatisasi, layanan digital, dan kecerdasan buatan menjadi penyebab utama berkurangnya kebutuhan terhadap peran-peran tersebut.
Skill yang Paling Dibutuhkan di Dunia Kerja Baru
WEF menekankan bahwa keterampilan akan menjadi kunci utama agar tenaga kerja tetap relevan. Berpikir analitis menjadi skill yang paling dicari, dengan sekitar 70 persen perusahaan menilainya sebagai kemampuan penting.
Selain itu, perusahaan juga semakin membutuhkan:
- Ketangguhan dan daya tahan mental
- Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi
- Kepemimpinan dan kemampuan memengaruhi orang lain
Di sisi teknologi, AI dan big data menempati urutan teratas sebagai keterampilan dengan pertumbuhan tercepat. Disusul oleh keahlian di bidang keamanan siber, jaringan komputer, dan literasi teknologi.
Tak kalah penting, kemampuan seperti berpikir kreatif, rasa ingin tahu, serta kemauan untuk terus belajar juga semakin dihargai di era kerja yang terus berubah.
Baca Juga : Resmi Dibuka, SNPMB 2026 Bisa Gugur Massal Jika Akun Tidak Disimpan Permanen Tepat Waktu
Sebaliknya, keterampilan fisik seperti ketangkasan manual, daya tahan, dan presisi diperkirakan makin berkurang relevansinya karena banyak proses kerja digantikan mesin dan otomatisasi.
Kesenjangan Skill Jadi Tantangan Besar
Meski jumlah pekerjaan global diproyeksikan meningkat, WEF mengingatkan adanya risiko kesenjangan keterampilan. Pekerjaan yang tumbuh dan yang menyusut membutuhkan kompetensi yang sangat berbeda.
Keterampilan seperti fleksibilitas, ketangguhan, literasi teknologi, manajemen operasi, pengendalian kualitas, dan pemrograman menjadi pembeda utama antara pekerja yang akan bertahan dan mereka yang berisiko tertinggal.
Karena itu, investasi pada peningkatan skill dan pembelajaran sepanjang hayat akan menjadi kunci untuk menghadapi dunia kerja hingga 2030.
