JATIMTIMES - Film horor terbaru berjudul Aku Harus Mati tengah menjadi sorotan publik. Promosi film ini menggunakan baliho besar di beberapa titik jalan strategis, menampilkan mata merah yang menyeramkan dan judul provokatif. Visual ini memicu perdebatan di media sosial, karena dianggap berpotensi memengaruhi psikologi masyarakat, terutama anak-anak, remaja, dan orang yang memiliki masalah kesehatan mental.
Menanggapi hal itu, beberapa tokoh penting akhirnya buka suara. Pernyataan pertama datang dari Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi. Ia menekankan bahwa reaksi publik dan pakar jiwa bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi. Menurutnya, menghadirkan tema bunuh diri tanpa kehati-hatian bisa berdampak langsung pada keselamatan publik. Ia menjelaskan:
Baca Juga : Reklame Film 'Aku Harus Mati' di JPO Kayutangan Diturunkan, Disebut Langgar Perda
"Angka-angka ini menegaskan bahwa paparan publik terhadap materi sensitif terjadi dalam konteks kebutuhan layanan yang meningkat, sehingga komunikasi publik yang tidak bertanggung jawab berpotensi memperburuk situasi. Pilihan kata yang tampak sepele, menggambarkan bunuh diri sebagai 'pilihan' atau 'pembebasan', bisa ditangkap sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa," ujar Imran dalam pernyataan resminya, Senin (6/4/2026).
Data Kemenkes menunjukkan adanya peningkatan kasus bunuh diri dari 1.350 kasus pada 2023 menjadi 1.450 kasus pada 2024. Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan bantuan pada layanan krisis kesehatan jiwa, dengan panggilan ke layanan Healing 119 naik dari rata-rata 400 panggilan per hari pada Agustus 2025 menjadi 550 panggilan per hari pada 2026.
Komentar mengenai film ini juga datang dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Ia memastikan jajarannya memantau langsung dan melakukan koordinasi dengan lembaga terkait, termasuk Satpol PP dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
"Yang pertama berkaitan dengan poster film 'Aku Harus Mati', saya sudah mendapatkan laporan dari Wakil Koordinator Staf Khusus dan juga oleh Kepala Dinas Diskominfotik. Kemudian di lapangannya kami sudah melakukan koordinasi dengan KPI DKI Jakarta dan Satpol PP dan termasuk biro iklan, baliho tersebut sudah kami turunkan. Strategi pemasaran yang provokatif dan mengabaikan dampak sosial bagi warga Jakarta tidak akan diberi ruang toleransi. Ini tidak boleh terulang kembali," ujar Pramono di Pasar Gardu Asem, Jakarta Pusat Senin (6/4/2026).
Baliho film Aku Harus Mati yang berada di lokasi seperti Jalan Puri Kembangan, Jalan Daan Mogot Km 11, dan Pos Polisi Perempatan Harmoni dicopot untuk menghindari keresahan masyarakat. Di Malang, baliho juga diturunkan karena dianggap meresahkan dan melanggar aturan lokal terkait reklame.
Sinopsis Film Aku Harus Mati
Film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Aroe Ama dan mengangkat kisah Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup mewah namun terlilit utang dari pinjaman online dan layanan paylater. Untuk mencari jalan keluar, Mala memutuskan kembali ke panti asuhannya, tempat ia dibesarkan.
Di panti, Mala bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron), sosok bijak dan misterius. Namun, ketenangan yang diharapkan tidak datang. Setelah mata batinnya terbuka secara misterius, Mala menemukan rahasia kelam tentang asal-usulnya, termasuk perjanjian gelap dengan kekuatan supranatural yang menuntut pengorbanan orang-orang terdekat demi kesuksesannya.
Selain menghadirkan ketegangan horor, film ini juga menyisipkan kritik sosial. Tekanan hidup modern, jeratan utang, dan dilema moral menjadi sorotan utama. Penonton tidak hanya disuguhi jump scare, tetapi juga diajak memahami konflik batin dan dilema etis yang dialami tokoh utama.
Sutradara Aroe Ama menekankan nuansa psikologis melalui interaksi Mala dengan karakter lain, baik sahabat maupun Ki Jago, sehingga ketegangan emosional ikut dirasakan penonton.
Daftar Pemain
Berikut daftar pemeran utama Aku Harus Mati:
• Hana Saraswati sebagai Mala
• Amara Sophie sebagai Tiwi
• Prasetya Agni sebagai Nugra
• Bambang Paningron sebagai Ki Jago
Film ini juga menghadirkan sejumlah pemeran pendukung yang memperkuat dinamika cerita, termasuk karakter di panti asuhan dan kehidupan masa lalu Mala.
Aku Harus Mati menghadirkan pengalaman horor yang lebih dari sekadar ketegangan visual. Film ini memadukan drama psikologis, dilema moral, dan kritik sosial terkait tekanan hidup modern. Kontroversi promosi justru menambah sorotan publik, sehingga film ini menjadi salah satu yang paling dibicarakan menjelang perilisan 2026.
