Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Uji Coba MBG Prasmanan di Malang Dijaga Ketat Petugas Gizi dan Keamanan Pangan

Penulis : Hendra Saputra - Editor : A Yahya

02 - Apr - 2026, 13:19

Placeholder
Siswa MIN 2 Kota Malang saat mengambil menu MBG prasmanan (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di Kota Malang tak hanya menghadirkan pengalaman baru bagi siswa. Namun juga dikawal ketat dari sisi keamanan pangan hingga standar gizi

Kepala SPPG Kota Malang, Athoillah, menegaskan bahwa seluruh proses pelaksanaan melibatkan relawan yang telah dibekali standar keamanan pangan serta penggunaan alat pelindung diri (APD). Hal ini dilakukan untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga.

Baca Juga : WFH Pegawai Swasta Tak Wajib Jumat, Ini Aturan Terbaru dari Menaker 2026

"Setiap relawan yang sudah menjadi bagian, datang kemari dengan tetap mengutamakan food safety, keamanan pangan, dan juga APD-nya juga terjaga, sehingga makanan enggak sampai ada kekurangan kualitas, gitu," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap SPPG melibatkan puluhan petugas. Athoillah menyebutkan, jumlah petugas di tiap SPPG mencapai 47 orang. Namun, jumlah tersebut tetap disesuaikan dengan banyaknya penerima manfaat di masing-masing sekolah.

"Kalau jumlah petugas kami di setiap SPPG 47. Kalau untuk yang teknisnya, mungkin dilihat dari penerima manfaat setiap SPPG, kalau misal di prasmanan apa, satu sekolah itu banyak, kita menyesuaikan dengan banyaknya penerima manfaat yang datang," jelasnya.

Untuk menjaga standar gizi, pihaknya menggunakan sistem takaran yang ketat dengan sendok ukur khusus. Selain itu, pengawasan juga melibatkan ahli gizi yang turut memantau langsung selama uji coba berlangsung.

"Ya, kalau untuk kontrol gizi, tentunya ada takaran porsinya. Di situ juga akan dipantau sama ahli gizi yang harus ikut juga di apa, percobaan prasmanan ini, di acara uji coba ini," katanya.

Ia menambahkan, proses pengambilan makanan tetap dikontrol oleh petugas agar sesuai dengan takaran kebutuhan gizi yang telah ditentukan. "Ya, nanti kalau pengambilannya, nanti ada petugasnya yang buat takarnya, karena kan memang harus sesuai takarannya biar angka kecukupan gizinya tetap terjadi," imbuhnya.

Sementara itu, untuk mengatasi antrean siswa, pihak SPPI menggandeng sekolah agar proses berjalan tertib. Peran guru dinilai penting karena lebih memahami kondisi siswa di lapangan.

"Jadi kalau untuk antri, mungkin kami kerja sama dengan sekolah. Jadi biar nanti sekolah atau bapak atau ibu guru yang mengatur proses antriannya, karena mereka kan yang bisa tahu kondisi muridnya di sekolah," ucapnya.

Dari sisi kualitas makanan, sistem prasmanan dinilai memiliki keunggulan karena makanan disajikan lebih segar dan hangat. Sehingga mengurangi risiko penurunan kualitas.

"Ya, kalau keuntungannya, tentunya makanannya lebih fresh dan hangat, sehingga menghindari dari mungkin penurunan kualitas makanan tadi," tuturnya.

Terpisah, Kepala SPPG Kota Malang Sukun, Gadang 2, Ita Herlistyawati, menjelaskan bahwa uji coba ini merupakan arahan langsung dari pimpinan. Hal itu sebagai bagian dari evaluasi efektivitas sistem prasmanan.

Baca Juga : Uji Coba MBG Prasmanan Perdana di Kota Malang, Porsi Fleksibel dan Menu Lengkap

"Iya, jadi arahan dari Bapak Kabadan melalui Zoom meeting di hari Jumat kemarin, kita dianjurkan untuk kalau misal memang di sekolah ini ada halalbihalal, kita menyediakan makanan MBG-nya itu dalam bentuk prasmanan gitu. Nah, sekalian untuk uji coba kalau misal prasmanan itu efektif atau tidak gitu," jelasnya.

Uji coba perdana ini digelar di MIN 2 Kota Malang dengan total sekitar 1.300 porsi, termasuk untuk tenaga pendidik. Menu yang disajikan pun disesuaikan dengan suasana Lebaran.

"Iya, karena menunya ini Lebaran, masih apa vibes-nya itu Lebaran, jadi itu ada ayam, terus ada krecek, terus ada sayur apa labu siam sama tempe, terus nanti ada es buah sama ada telur kecap gitu," ungkap Ita.

Dalam teknis pelaksanaannya, siswa diarahkan berbaris dan mengambil makanan secara bergiliran di beberapa titik penyajian yang telah dibagi berdasarkan kelompok kelas.

"Iya, jadi ini nanti adik-adik sama tendiknya itu berjajar, terus langsung ke arah menunya itu. Jadi ada empat, ada lima section nanti dari kelas-kelas anak-anak kelas-kelas itu dibagi lima deretan sini, terus keliling-keliling sesuai sama menunya diterima semuanya," terangnya.

Meski demikian, Ita mengakui ada tantangan dalam persiapan sistem prasmanan dibandingkan metode reguler. Salah satunya adalah kebutuhan distribusi dan logistik yang lebih kompleks.

"Mungkin ribetnya persiapan di sekolahnya ya, Pak ya. Karena kan kita butuh transportasi dan kayak distribusinya itu beda gitu. Karena di sini itu prasmanan jadikan langsung banyak pak yang besar gitu yang dibawa ke sini. Sedangkan kalau misal biasa itu kan udah ada di ompreng, jadi udah langsung dibagikan ke anak-anak. Itu saja sih bedanya," ujarnya.

Ke depan, hasil uji coba ini akan menjadi bahan evaluasi sebelum diputuskan apakah sistem prasmanan akan diterapkan lebih luas. "Nah, ini kalau misal dalam uji coba ini efektif, kemungkinan kita nunggu arahan lagi dari Kabadan. Kalau memang efektif berarti kan ada kelanjutannya lagi. Kalau misal tidak, ada evaluasi kendalanya itu apa," pungkasnya.


Topik

Peristiwa Mbg athoillah mbg prasmanan min 2 kota malang Ita herlistyawati



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Banyuwangi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

A Yahya