Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Puasa Hanya 1 Jam di Murmansk Rusia, Fenomena Langka yang Bikin Waktu Salat Nyaris Bersamaan

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

22 - Feb - 2026, 11:35

Placeholder
Pemandu wisata asal Indonesia yang membagikan pengalamannya berpuasa di Murmansk, Rusia. (Foto: screenshot)

JATIMTIMES - Ramadan selalu identik dengan menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di Indonesia, durasi puasa rata-rata berlangsung 12 hingga 14 jam. 

Namun di belahan Bumi paling utara, tepatnya di Murmansk, Rusia. durasi puasa bisa jauh lebih singkat, bahkan hanya sekitar satu jam.

Baca Juga : Kota Batu Bakal Terapkan Kabel Tanam Atasi Kesemrawutan, Diatur Perwali

Fenomena ini bukan mitos, melainkan dampak dari kondisi geografis ekstrem yang dialami kota tersebut.

Murmansk merupakan salah satu kota terbesar di dunia yang berada di atas Lingkar Arktik. Letaknya yang sangat dekat dengan Kutub Utara membuat kota ini mengalami perbedaan panjang siang dan malam yang sangat ekstrem sepanjang tahun.

Saat musim dingin tiba, khususnya sekitar bulan Desember, Murmansk mengalami fenomena yang disebut polar night atau malam kutub. Dalam periode ini, matahari tidak benar-benar terbit selama kurang lebih satu bulan.

Langit tetap tampak gelap sepanjang hari, hanya diselingi cahaya redup seperti senja yang berkepanjangan. Situasi inilah yang membuat waktu siang menjadi sangat singkat bahkan nyaris tidak ada.

Oleh karena itu, puasa di Murmansk hanya berdurasi satu jam saja. Hal ini bukanlah mitos melainkan fakta nyata yang benar-benar terjadi.

Dalam sebuah klip yang dibagikan akun TikTok @lalusatriamalaca, seorang pemandu wisata asal Indonesia menceritakan pengalamannya menjalani Ramadan di Murmansk. Ia menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu, durasi puasa di sana hanya berlangsung sekitar satu jam.

Bukan hanya itu, waktu salat pun terasa sangat berdekatan. Jeda antara Duhur dan Asar hanya sekitar 10 menit. Bahkan sekitar satu menit setelah Asar, waktu Magrib langsung tiba.

Artinya, dalam waktu kurang dari 15 menit, tiga waktu salat datang hampir bersamaan.

Bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan jarak antarwaktu salat sekitar dua hingga tiga jam, kondisi ini tentu terasa sangat unik sekaligus mengejutkan.

Seperti yang sudah diketahui, penentuan waktu puasa dan salat dalam Islam bergantung pada pergerakan Matahari. Saat Matahari terbit, masuk waktu Subuh. Ketika Matahari tergelincir, masuk Duhur. Ketika Matahari condong ke barat, masuk Asar. Dan saat Matahari terbenam, masuk Magrib.

Di wilayah ekstrem seperti Murmansk saat musim dingin, Matahari bergerak sangat rendah di cakrawala. Durasi kemunculannya pun sangat singkat. Inilah yang menyebabkan jarak antarwaktu salat menjadi sangat dekat.

Sebaliknya, ketika musim panas tiba, Murmansk mengalami fenomena midnight sun. Matahari hampir tidak pernah benar-benar terbenam. Dalam kondisi ini, durasi siang menjadi sangat panjang, sehingga waktu puasa bisa berlangsung sangat lama.

Bagaimana Umat Islam Menyiasatinya?

Kondisi ekstrem seperti ini tentu memunculkan pertanyaan: bagaimana umat Islam menjalankan puasa dengan adil dan sesuai syariat?

Baca Juga : Rekrutmen BPJS Kesehatan 2026 Dibuka untuk Lulusan D3-S1, Cek Posisi dan Syaratnya

Para ulama memberikan beberapa solusi bagi wilayah dengan siang atau malam yang tidak normal:

1. Mengikuti waktu negara terdekat yang memiliki siklus siang-malam lebih stabil.

2. Mengikuti waktu Makkah sebagai patokan.

3. Menggunakan perhitungan waktu rata-rata 24 jam yang disepakati komunitas Muslim setempat.

Keputusan biasanya ditetapkan berdasarkan musyawarah ulama dan otoritas keagamaan di wilayah tersebut agar umat tetap bisa beribadah dengan baik tanpa mengalami kesulitan yang berlebihan.

Ramadan dengan Tantangan Berbeda di Setiap Belahan Dunia

Fenomena di Murmansk menunjukkan bahwa pengalaman Ramadan tidak selalu sama di setiap negara. Di negara-negara Skandinavia seperti Norwegia atau Islandia, durasi puasa juga bisa sangat panjang saat musim panas.

Sementara di wilayah dekat Kutub Selatan atau Kutub Utara, perubahan musim bisa membuat siang dan malam sangat ekstrem.

Meski demikian, esensi Ramadan tetap sama: melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Kisah puasa satu jam di Murmansk menjadi gambaran betapa luas dan beragamnya pengalaman umat Islam di dunia. Ada yang berjuang menahan haus lebih dari 18 jam, ada pula yang berbuka hanya satu jam setelah imsak.

Perbedaan durasi itu bukan soal ringan atau berat, melainkan bagian dari ketetapan alam yang telah Allah ciptakan. Dan di tengah segala perbedaan tersebut, umat Islam tetap disatukan oleh tujuan yang sama: menjalankan ibadah Ramadan dengan penuh keikhlasan dan ketaatan.


Topik

Serba Serbi Puasa satu jam fenomena alam puasa singkat Murmansk Rusia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Banyuwangi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy