Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Islamisasi, Intrik, dan Dendam di Brang Wetan: Kisah Kiai Posong, Menak Sopal, dan Batoro Katong

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

29 - Jan - 2026, 16:04

Placeholder
Situs Makam Ki Ageng Ménak Sopal di kawasan Hutan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang dipercaya sebagai salah satu tokoh awal Islamisasi di wilayah Brang Wétan dan hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan religi di Trenggalek.(Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

 

JATIMTIMES - Sejarah lokal Jawa tidak pernah sekadar catatan tentang pergantian penguasa atau silsilah keluarga bangsawan. Ia juga merupakan kisah tentang spiritualitas, politik, intrik, dan dendam sejarah yang membentuk struktur sosial hingga berabad-abad kemudian. Di wilayah Brang Wétan, yaitu kawasan timur Pegunungan Wilis hingga pesisir selatan Jawa, kisah tentang Kiai Posong, Batoro Katong, serta dua generasi Ménak Sopal menyingkap lapisan sejarah Islamisasi yang penuh tarik-menarik antara dakwah, legitimasi kekuasaan, dan konflik batin manusia.

Tulisan ini akan menelusuri perjalanan Kiai Posong, murid sekaligus utusan Batoro Katong dari Ponorogo, yang ditugaskan membuka hutan dan menyebarkan Islam di pesisir selatan. Perjalanannya berjalin erat dengan Ménak Sopal I, bangsawan pembuka hutan Trenggalek, yang kemudian diangkat menjadi bupati oleh Batoro Katong. Namun hubungan harmonis itu berubah rumit ketika generasi berikutnya, yakni Ménak Sopal II, masuk ke orbit Kiai Posong. Cinta, intrik perjodohan, dan darah yang tertumpah menjadikan kisah ini tidak hanya sekadar babad, tetapi juga cermin dari pergulatan ideologi dan politik pada masa Islamisasi Jawa abad XVI.

Brang wetan

Kiai Posong dan Batoro Katong: Jejak Awal Islamisasi

Baca Juga : Program PEGAS Berhasil Perbaiki Status Gizi 90,12% Balita Stunting

Keruntuhan Majapahit pada awal abad ke-15 membuka babak baru sejarah Jawa. Pusat pemerintahan Trowulan runtuh pada 1478 M, peristiwa yang dikenang sebagai “sirna ilang kertaning bumi”. Namun warisan Majapahit tidak serta-merta lenyap. Salah satu penerusnya adalah Raden Joko Piturut, putra Brawijaya V dari seorang putri Panaraga, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Batoro Katong, penguasa sekaligus wali penyebar Islam di Ponorogo.

Sementara Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak (1475–1518) dengan legitimasi Islam, Batoro Katong menempuh jalan berbeda. Ia memilih menyerah pada arus zaman, memeluk Islam, dan membawa 140 prajurit Muslim terlatih untuk menguasai Ponorogo. Kehadirannya berhadapan dengan Ki Ageng Kutu, penguasa lokal yang masih setia pada ajaran Buddha. Pertentangan mereka melahirkan perang berkepanjangan, menegaskan bahwa konversi agama di Jawa kerap diiringi perebutan legitimasi politik dan kontrol tanah.

Sumber-sumber tradisi lisan menyebutkan, Batoro Katong pernah kalah berulang hingga mendapat ilham spiritual untuk menyerang dengan obor di empat penjuru pada malam hari. Strategi sederhana ini mengacaukan pasukan lawan dan menjadi simbol sinergi antara taktik militer dan kekuatan spiritual. Puncaknya, Ki Ageng Seloaji, murid Sunan Kalijaga, berhasil mengalahkan Ki Ageng Kutu dan menandai runtuhnya pengaruh Buddha di Ponorogo.

Pasca-kemenangan, Batoro Katong membangun struktur pemerintahan baru. Ia mendirikan masjid, pesantren, dan menetapkan perdikan di desa Setono. Pepali atau pantangan, seperti larangan memakan daging sapi, memperkuat identitas spiritual sekaligus mengikat komunitas baru dalam norma bersama. Wilayah Ponorogo pun ditata dengan batas jelas dari Bengawan Solo hingga Laut Selatan.

Di tengah penataan wilayah Ponorogo yang makin terstruktur, jaringan ulama dan bangsawan bawahan mulai memainkan peran penting. Salah satunya adalah Kiai Posong, tokoh utusan Batoro Katong, yang datang menghadap untuk melaporkan perkembangan dakwah dan pembukaan hutan di pesisir selatan.

Babad Nagara Pacitan mencatat bahwa pada suatu ketika, Kiai Posong menghadap Adipati Batoro Katong di Ponorogo. Pertemuan itu bukan sekadar sowan, melainkan laporan langsung tentang hasil Islamisasi dan pembukaan hutan di pesisir selatan. Kepada adipati, Kiai Posong menyatakan: desa-desa baru telah berdiri, banyak penduduk memeluk Islam, dan mereka yang menolak tak jarang ditundukkan melalui perang. Islamisasi pada fase awal ini tampak keras: menundukkan oposisi dengan pedang, namun bagi yang menyerah diberi pengajaran syariat.

Adipati Batoro Katong gembira. Namun ia juga menanyakan kabar Ménak Sopal, sahabat sekaligus mitra lama yang pernah berembuk membuka hutan di arah timur. Kiai Posong menjelaskan bahwa mereka dahulu berpisah: ia ke barat daya, sementara Ménak Sopal ke tenggara. Sejak saat itu, keduanya jarang bersua. Adipati lalu memerintahkan: “Kakang, sekarang kau kusuruh ke Trenggalek memanggil Ménak Sopal. Aku ingin tahu kabarnya sekaligus mengobati rindu.”

Perintah ini bersifat ganda: menjalankan perintah politik sang adipati sekaligus menunaikan sunah menengok saudara. Maka berangkatlah Kiai Posong menuju Trenggalek, menempuh perjalanan naik-turun gunung hingga tiba di kediaman Ménak Sopal.

Makam Batoro Katong

Pertemuan di Trenggalek: Persaudaraan dan Persaingan

Ménak Sopal terkejut namun gembira menerima kedatangan Kiai Posong. Setelah berpeluk dan berbincang, Kiai Posong menyampaikan pesan adipati. Ménak Sopal pun menyanggupi untuk berangkat ke Ponorogo. Namun di perjalanan, muncul gagasan yang mencerminkan watak kompetitif khas bangsawan Jawa: adu cepat perjalanan. Ménak Sopal merapal mantra untuk berjalan dalam tanah, sementara Kiai Posong menggunakan aji sepi angin, melesat di atas tanah. Kiai Posong tiba lebih dahulu di paseban Ponorogo.

Kekalahan itu diakui Ménak Sopal dengan jiwa besar. Sebagai tanda, ia menyerahkan keris pusaka Kiai Penggarit kepada Kiai Posong dan berjanji menitipkan anak sulungnya, Ménak Sopal II, kelak kepada sahabatnya itu. Peristiwa ini penting: ia menandai terbentuknya ikatan politik-spiritual antara dua tokoh besar Brang Wétan. Batoro Katong kemudian mengangkat Ménak Sopal sebagai Bupati Trenggalek, sementara Kiai Posong memperoleh hadiah seperangkat pakaian kebesaran.

Namun di balik persaudaraan itu, sesungguhnya tumbuh bibit persaingan laten. Ménak Sopal adalah bangsawan pribumi dengan basis lokal, sementara Kiai Posong datang sebagai utusan adipati, mewakili Islamisasi sekaligus legitimasi kekuasaan Ponorogo. Relasi ini sejak awal memuat ketegangan antara adat lokal dan agama baru.

Kiai Posong

Generasi Baru: Ménak Sopal II dan Tradisi Ngenger

Sebagai wujud perjanjian, Ménak Sopal I mengirim anak sulungnya, Ménak Sopal II, untuk ngenger di rumah Kiai Posong. Dalam tradisi Jawa, ngenger bukan sekadar menumpang, tetapi magang sosial: anak bangsawan belajar etika, kerja keras, dan ilmu pada tokoh yang lebih tinggi wibawanya.

Perjalanan Ménak Sopal II penuh laku tirakat: menembus hutan, tidur di alam, hingga akhirnya tiba di Posong. Kiai Posong menerima dengan gembira. Sejak itu, Ménak Sopal II dianggap seperti anak sendiri. Ia rajin bekerja, patuh, dan mendapatkan kasih sayang hampir sama dengan anak kandung tuannya.

Namun di balik hubungan itu, api asmara mulai menyala. Ménak Sopal II jatuh cinta pada putri Kiai Posong. Kecantikan gadis itu, menurut Babad Nagara Pacitan, membuatnya “tak dapat tidur, wajahnya senantiasa tercetak di pelupuk mata.” Cinta ini menjadi titik awal tragedi.

Menak Sopal II

Perjodohan Politik: Posong dan Ngrejoso

Kiai Posong sesungguhnya telah lama berjanji dengan Kiai Petung dari Ngrejoso untuk berbesan. Ketika putrinya telah cukup usia, ia menulis surat mengingatkan janji itu. Balasan Kiai Petung penuh suka cita: pernikahan segera dilangsungkan usai panen, pada bulan Besar (Zulhijah). Dengan demikian, perjodohan ini bukan sekadar urusan keluarga, tetapi persekutuan politik antara dua tokoh Islamisasi pesisir selatan.

Kabar itu mengguncang batin Ménak Sopal II. Ia merasa seakan “terhindar dari sambaran halilintar, luput dari terkaman harimau.” Cintanya pada putri Kiai Posong berbenturan dengan realitas pahit politik perjodohan. Dalam keputusasaan, ia bersumpah bahwa jika tidak bisa memiliki sang gadis maka ia rela mati atau menumpahkan darah.

Menak Sopal II

Tragedi di Malam Pengantin

Baca Juga : DPRD Jatim Dukung Proyek SRRL, Cahyo Harjo: Perkuat Peran Strategis Surabaya

Hari pernikahan tiba. Putra Kiai Petung datang dengan iring-iringan, duduk di pendopo Posong, dan dinikahkan dengan putri Kiai Posong. Arak-arakan pengantin berlangsung meriah, diiringi bunyi-bunyian dan sorak sukacita.

Namun malam itu berubah kelam. Dalam keramaian, Ménak Sopal II menyelinap. Ketika rombongan melewati tempat gelap, ia menghunus keris dan menusuk lambung pengantin lelaki hingga tewas seketika. Jerit tangis dan kekacauan pecah. Namun identitas pembunuh tidak terbongkar. Babad Nagara Pacitan mencatat: “perbuatan jahat Ménak Sopal II lestari tidak terbongkar.”

Kiai Posong berduka, Kiai Petung hampir mengamuk, namun ditenangkan keluarga. Kematian putranya dianggap takdir. Ironisnya, Ménak Sopal II tetap bertahan di Posong, bahkan semakin disayangi Kiai Posong.

Tragedi

Pernikahan Terselubung: Intrik Berbuah Legitimasi

Kiai Petung sempat menaruh curiga, bahkan hatinya perih karena kehilangan anak. Akan tetapi, tidak ada bukti. Untuk meredam luka, ia justru meminta kepada Kiai Posong agar putrinya diangkat menjadi anak angkat di Ngrejoso, menggantikan putra yang telah tiada. Kiai Posong menyetujui dengan ikhlas, dan sejak itu gadis tersebut dikenal sebagai anak Kiai Petung meski sejatinya ia tetap darah daging Posong.

Setahun berselang, rahasia kegelapan itu berubah menjadi paradoks. Kiai Posong sendiri yang melobi agar putrinya yang kini berstatus anak Kiai Petung dinikahkan dengan Ménak Sopal II. Kiai Petung mengabulkan. Maka pesta besar digelar. Pengantin lelaki diarak dari Posong ke Ngrejoso dengan bunyi gamelan, gendang, dan sorak-sorai rakyat. Tidak ada yang mengetahui bahwa pengantin lelaki itu sesungguhnya adalah pembunuh calon suami pengantin perempuan.

Sejak hari itu, Ménak Sopal II resmi menjadi menantu keluarga besar Posong dan Ngrejoso. Ia mendapat legitimasi sosial sekaligus politik. Akan tetapi, persekutuan yang lahir dari pesta pernikahan itu dibangun di atas darah dan dendam yang tersembunyi. Sejarah pun mencatatnya sebagai kisah paradoks cinta dan kejahatan, duka dan pesta, terselubung dalam satu peristiwa.

Menak Sopal II

Warisan Politik dan Spiritualitas

Dari perkawinannya dengan putri Kiai Posong, Ménak Sopal II menetap di Desa Posong dan dari sanalah lahir garis keturunan yang memegang kepemimpinan desa secara turun-temurun. Dari keluarga ini tercatat nama-nama penting: Kiai Posong menurunkan Ngabehi Satreyan, kemudian Ngabehi Satreyan menurunkan Ngabehi Wiromarto. Selanjutnya Ngabehi Wiromarto menurunkan Ngabehi Kartojoyo, dan dari Kartojoyo lahirlah Ngabehi Ronggomarto. Ronggomarto bahkan diambil sebagai menantu oleh Tumenggung Martowongso, Bupati Ponorogo pada era Mataram yang merupakan keturunan Batoro Katong. Perkawinan ini menandai semakin eratnya hubungan antara Posong dan pusat pemerintahan kabupaten. Dari Ronggomarto lahir Ngabehi Notoprojo, dan dari garis keturunan inilah jabatan lurah Posong diwariskan secara turun-temurun, memastikan trah Ménak Sopal II tetap menempati posisi strategis dalam struktur sosial desa.

Sementara itu, garis keturunan Kiai Petung juga berkembang dan berkelindan dengan jaringan aristokrasi di luar wilayah. Dari Kiai Petung lahirlah Ngabehi Setyolegowo, lalu dari Setyolegowo lahir Ngabehi Secodarmo. Generasi berikutnya, Ngabehi Secodarmo II, menikah dengan putri Pangeran Arya Sumaningrat, Bupati Sumedang di Pasundan. Dari perkawinan ini lahirlah Ngabehi Notopuro. Perkawinan lintas wilayah ini menunjukkan bagaimana jaringan keluarga dari sebuah desa perdikan di Jawa Timur dapat bertransformasi menjadi bagian dari aristokrasi yang lebih luas hingga ke tanah Pasundan.

Jaringan genealogis tersebut memberi dua pelajaran penting. Pertama, persekutuan politik lokal yang awalnya terjalin melalui pembukaan hutan dan perjodohan akhirnya berkembang menjadi jaringan aristokrasi lintas wilayah. Kedua, kisah Kiai Posong dan dua generasi Ménak Sopal menyingkap wajah Islamisasi Jawa yang khas: dakwah yang berpadu dengan pendirian perdikan, legitimasi politik, dan pernikahan strategis. Ketiga, lapisan kisah ini juga menunjukkan bahwa sejarah lokal tidak steril dari intrik kekuasaan maupun dendam personal. Di balik genealoginya, ia merekam pergulatan batin manusia yang sama rumitnya dengan sejarah besar kerajaan.

Penerus Desa Posong

Analisis Historiografi: Antara Babad dan Fakta Sosial

Sebagai teks babad, kisah ini tentu bercampur antara fakta dan mitos. Adu cepat dengan aji, perjalanan dalam tanah, atau cinta yang digambarkan hiperbolik, adalah ciri narasi tradisional Jawa. Namun di balik simbolisme itu terdapat inti sejarah: proses Islamisasi memang diwarnai konflik, perjodohan politik, dan pembentukan elite lokal.

Batoro Katong tampil sebagai figur pusat legitimasi. Kiai Posong mewakili penyebar Islam sekaligus agen politik Ponorogo. Ménak Sopal I mewakili bangsawan lokal yang diserap dalam jaringan kekuasaan Islam. Sementara Ménak Sopal II melambangkan generasi transisi: masih digelayuti ambisi personal, namun masuk ke orbit kekuasaan Islamisasi.

Historiografi kritis mendorong kita membaca babad bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai cermin nilai dan konflik zamannya. Dalam konteks abad XVI, Islamisasi di Brang Wétan tidak dapat dipisahkan dari perebutan legitimasi politik dan pengendalian tanah perdikan.

Ponorogo abad ke 15

Catatan Akhir: Warisan Sejarah dan Identitas Lokal

Mengapa kisah ini penting? Karena kisah tentang Ménak Sopal, Kiai Posong, dan Batoro Katong ini membentuk memori kolektif masyarakat Trenggalek hingga kini.Nama Ménak Sopal tetap dikenang melalui legenda bendungan besar yang konon dibangunnya, sementara Desa Posong bertahan sebagai pusat genealogis keturunannya. Adapun kisah pengkhianatan cinta Ménak Sopal II terus hidup dalam tradisi tutur, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari ingatan lokal. Jejak sejarah itu juga termanifestasi secara fisik pada Situs Makam Ménak Sopal yang berada di kawasan hutan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang hingga kini masih diziarahi dan dipandang sebagai penanda penting warisan sejarah setempat.

Dendam sejarah, meski tidak lagi tampak dalam konflik nyata, tetap hadir sebagai lapisan batin identitas lokal. Ia menjelaskan mengapa masyarakat Jawa sering menekankan pentingnya rukun, karena sejarah mereka penuh luka akibat intrik internal.

Kisah Kiai Posong, Ménak Sopal, dan Batoro Katong memperlihatkan bahwa sejarah lokal Jawa bukanlah catatan pinggiran, melainkan bagian penting dari sejarah Islamisasi Nusantara. Ia memperlihatkan perjumpaan antara dakwah dan politik, antara spiritualitas dan intrik, antara cinta dan dendam.

Dengan membaca babad melalui kacamata historiografi kritis, kita memahami bahwa Islamisasi di Jawa tidak berlangsung linier dan damai, melainkan penuh negosiasi, konflik, dan kompromi. Dari hutan Brang Wétan hingga istana Ponorogo, dari perjodohan politik hingga tragedi pengantin yang terbunuh, semua itu membentuk warisan sejarah yang masih terasa hingga kini.


Topik

Serba Serbi islamisasi menak sopal



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Banyuwangi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri