IAI Ibrahimy Genteng Gelar KKN Tematik dan Kolaboratif | Banyuwangi Times

IAI Ibrahimy Genteng Gelar KKN Tematik dan Kolaboratif

Jul 27, 2021 17:16
Emi Hidayati, Ketua LPPM IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi (Istimewa)
Emi Hidayati, Ketua LPPM IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi (Istimewa)

BANYUWANGITIMES - Saat ini IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi menggelar KKN yang diikuti oleh sekitar 422 orang mahasiswa yang tersebar di 26 desa 20 Kecamatan. 

Agenda akademik  ini mengambil gagasan tematik–kolaboratif. Bentuk ini dipilih karena keterbatasan waktu pelaksanaan KKN yang hanya 40 hari dan ketersediaan disiplin ilmu serta  sumberdaya yang dimiliki oleh mahasiswa.  Sehingga perlu mengambil tema spesifik, yaitu Pembangunan Keluarga  sebagai unit terkecil dari pembangunan negara dengan  menyelaraskan atau menyinergikan kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupa peningkatan kualitas pembangunan SDM; Pertumbuhan ekonomi inklusif dan penurunan kemiskinan. 

Baca Juga : Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (1)

Bentuk  tematik-kolaboratif  menjadi strategi  dalam pencapain tujuan–tujuan KKN, seperti  melaksanakan tanggung jawab Tri Darma Perguruan Tinggi berupa pengabdian kepada masyarakat, mengelaborasi  pengetahuan, ketrampilan dan keilmuan ke dalam tema pembangunan keluarga. 

Isu-isu stunting, angka kesakitan pada anak, anemia pada remaja putri, penyimpangan seks pada remaja, pernikahan usia dini, angka kematian ibu dan bayi, jeratan rentenir pada pelaku usaha mikro skala rumah tangga, sanitasi buruk, sampah yang tidak  tertangani secara komprehensif. Keseluruhan fenomena tersebut tidak mungkin dapat dirampungkan oleh  mahasiswa sendirian dengan keterbatasan sumberdaya yang dimiliki.  

Program KKN tidak sama dengan proyek penelitian atau pendampingan yang biasa dilakukan oleh kelompok-kelompok professional dengan membawa sejumlah anggaran dari para donor.  Jadi Peran dan posisi mahasiswa dalam situasi ini lebih sebagai fasilitator.

KKN di masa pandemi ini tetap dilaksanakan dengan tetap patuh pada protokol kesehatan. Kami berprinisip bahwa social distance bukan berati acuh, pembiaran, tidak peduli dan apatis terhadap keadaan masyarakat.  Sosial distance justru bermakna merekatkan solidaritas, gotong royong, srawung antar anggota keluarga, antar warga masyarakat. 

KKN di masa pandemi ini, mahasiswa dapat memiliki berbagai metode dan pendekatan seperti PRA (Participatory Rural Appraisal). Prinsip dasar pada PRA adalah berbagi pengalaman, keterlibatan masyarakat, penerapan konsep triangulasi dan keberlanjutan sebuah program. 

Praktiknya mengikutsertakan warga dalam mengidentikasi kerentanan dan potensi, menetapkan siapa pihak- pihak yang dapat turut serta  dalam mengurai permasalahan-permasalahan di lingkungan, warga juga mampu menentukan skala prioritas masalah mendasar yang bisa diatasi sendiri, dan mana tingkat kerentanan atau permasalahan yang dapat diatasi secara bersama. Dan juga diatasi melalui rencana program pemerintah desa. 

Melalui pendekatan pemberdayaan, kelembagaan ataupun penguatan kelompok masyarakat, mahasiswa selaku fasilitator dapat melatih pengetahuan warga masyarakat untuk mengurangi tingkat ancaman/kerapuhan yang  ada di lingkungan. Sehingga diharapkan lahir kesadaran, pengalaman dan ketrampilan dari masyarakat untuk  bergotong royong menguatkan keluarga- keluarga yang ada di lingkungan RT, RW dan dusun- dusun.  

Baca Juga : Pemkab Banyuwangi Memilih Bersikap Pasif dalam Tangani Kasus PT PBS

Secara akademik mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan KKN dalam bentuk laporan dan artikel yang dapat digunakan sebagai referensi bagi para pihak-pihak yang membutuhkan, maupun rekomendasi untuk perbaikan kebijakan pihak pemerintah. 

Orientasi tema pembangunan keluarga ini adalah ketahanan keluarga yang memiliki lima dimensi, antara lain ketahanan  struktural, ketahanan fisik, ketahanan ekonomi, ketahanan social psikologis dan ketahanan social budaya. Yang ditandai dengan menguatnya sikap saling peduli, saling perhatian antara anggota keluarga kakek–nenek,  ayah–ibu-anak, tetangga dan masyarakat. 

Pergaulan remaja yang sehat, usaha yang dikelola keluarga memiliki rencana bisnis yang baik, lingkungan rumah/ sanitasi yang  terjaga dari penyakit. Ketersediaan air bersih dan tanaman obat. Pencapaian indikator ketahanan keluarga tersebut tidak bisa instan dan diseleseikan sendiri oleh mahasiswa. Sehingga sejak awal  KKN ini memilih program yang telah ada di tiap–tiap desa yaitu  BENGKEL SAKINAH  sebagai  layanan untuk ditumbuhkembangkan peran dan fungsinya melalui sinergitas dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan desa (RT, RW, PKK, POS YANDU, KARANG TARUNA  dan LPMD) untuk menyediakan  kader–kader  sebagai ujung tombak pemberdayaan keluarga di desa.

*Ketua LPPM ( Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ) IAI Ibrahimy 

Topik
Berita opini

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya