Berpuasalah dengan Hati | Banyuwangi Times

Berpuasalah dengan Hati

Apr 23, 2021 20:20
Moch Yusuf Zen.(Foto : Ist/dok pribadi)
Moch Yusuf Zen.(Foto : Ist/dok pribadi)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh alhamdulillahirobbilalamin nasta'in ala umuriddunya waddin wassalatu wassalamu ala rasulillah in aja main Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam Amma ba'du La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim jamaah Mustami'in rohimakumullah

Pada bulan Ramadan ini yaitu 1442 Hijriyah dan 1441 Hijriyah memang terasa berbeda tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan sedang mengalami ujian dari Allah ta'ala tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia yaitu wabah pandemi Covid-19. Sehingga dalam praktek ibadah pun harus dijalankan dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Baca Juga : I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (2-Habis)

Dalam menjalankan ibadah puasa kita dituntut untuk bisa melaksanakan puasa secara dhohiron wa bathinan, yang kita ketahui mari kita berpuasa dengan hati. 

Kenapa harus dengan hati? Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-baqoroh ayat 183, Sesungguhnya sebagai seorang yang beriman kepada Allah ta'ala sejak zaman Nabi Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam semuanya mendapatkan perintah berpuasa, dimana Puasa adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka dalam meningkatkan taqwa kepada Allah subhanahuwata'ala perlu adanya ujian dalam diri manusia seperti halnya menahan sesuatu yang menyenangkan untuk sesaat dalam diri seseorang, dalam bahasa Jawa sering disebut dengan tirakat.

Seseorang yang menjalani tirakat maka dia tidak memperdulikan kesenangan-kesenangan dan kenikmatan-kenikmatan di sekitarnya karena dalam dirinya menahan sesuatu demi puncak kebahagiaan. Oleh karena itu ketika seseorang berpuasa sesungguhnya mempunyai hal yang kuat dalam mempertahankan keimanannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahwa dengan menahan perbuatan, sikap perangai, tingkah laku yang dapat membuat dirinya terlena dalam proses pendekatkan dirinya kepada Tuhan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Karena sedang berproses jadi hamba yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka bagi orang yang berpuasa tidaklah butuh penghormatan dari siapapun termasuk dirinya berkoar-koar orang yang tidak berpuasa untuk menghormati dirinya yang sedang berpuasa. Tetapi justru dirinya berusaha hormati usaha dalam dirinya untuk menahan hawa nafsunya agar tidak tergoda dengan orang-orang yang tidak melaksanakan puasa di sekitar dirinya. Sehingga akan tercipta yang dinamakan dengan toleransi hakiki bagiku berpuasa untuk menggapai status tertinggi dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yaitu menjadi hamba yang bertaqwa sedangkan mereka yang tidak berpuasa tidak akan mengganggu puasa yang saya jalankan karena mereka juga menghormati dirinya sendiri dan saudara-saudaranya yang berpuasa.

Puncak status manusia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah menjadi hamba. Siapakah hamba itu? Dalam Alquran hamba disebut dengan a'bdun yang mempunyai arti hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Tugas seorang hamba adalah tunduk dan patuh mengikuti perintah dari sang pemilik hamba yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga seorang hamba mempunyai kewajiban utama yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dalam setiap sendi kehidupan manusia apapun yang dia lakukan haruslah menjadi nilai-nilai ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Termasuk ibadah-ibadah yang wajib atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, salah satunya adalah puasa ramadan. 

Maka bagi seorang hamba menjalankan ibadah puasa adalah sebuah kewajiban bukan sebuah tuntutan belaka, karena atas dasar manusia sebagai hamba untuk tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karena itu dalam menjalankan ibadah puasa tidaklah takut untuk tidak dihormati oleh orang lain, karena konsepnya berpuasa membentuk dirinya menjadi hamba yang utama yaitu hamba yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

 Di sinilah kita bisa melihat di mana suatu tempat yang masih terjadi pergesekan dan pertengkaran dikarenakan antara yang berpuasa dan tidak berpuasa maka sesungguhnya mereka yang berpuasa hanya sekedar melaksanakan tuntutan puasa secara dhohir saja, dan masih menuruti hawa nafsunya untuk dihormati sebagai orang yang berpuasa atas dasar toleransi, padahal mereka telah menghilangkan toleransi itu sendiri dalam dirinya. 

Baca Juga : Terlalu Ke Kanan Saat Mendahului, Kijang Inova Tabrak Dua Motor Sekaligus

Jikalau dalam melaksanakan puasa dia seimbang antara dhohiron wa batinan, maka seseorang tersebut lebih memilih melaksanakan puasa dengan tidak mengganggu orang-orang lain yang tidak berpuasa. Karena pada dirinya menjaga hawa nafsunya lebih baik dan lebih tinggi daripada mengatur orang lain. Karena pada dasarnya konsep amar ma'ruf nahi mungkar ada tiga aspek. 

Pertama, cegahlah dengan tangan kekuasaan, hal ini yang paling berkompeten adalah pimpinan (Umara) atau penguasa di wilayahnya.  Kedua dengan lisannya, hal ini yang berkompeten adalah para pendakwah, ustadz, kiai dan ulama. Ketiga dengan hatinya, di sini adalah semua orang yang tidak mempunyai kompetensi seorang pemimpin atau Umara dan pendakwah maka bagi mereka cukup menahan dalam hatinya dengan ketidaksetujuan sesuatu yang telah melanggar aturan. Walaupun di sini disebut paling lemah imannya dalam konteks amar ma'ruf nahi mungkar, masih sangat bagus baginya masih mempunyai iman karena dalam hatinya masih ada rasa tidak setuju perbuatan yang melanggar aturan.  

Bagaimana jika seseorang tersebut telah benar-benar hilang rasa ketidaksetujuan dalam hatinya, maka orang tersebut benar-benar telah hilang imannya. Sedangkan konteks yang telah dijelaskan di atas tadi bagi mereka yang berpuasa dengan hati dan berimbang dengan amalnya maka dia telah melaksanakan berpuasa dengan iman dan mengharapkan menjadi seorang hamba yang paling berkualitas di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yaitu hamba yang bertaqwa. Oleh karena itu mari kita berpuasa menahan hawa nafsu kita agar tidak merusak iman kita dan status kita sebagai hamba yang sedang menuju tingkat Taqwa kepada Tuhan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

*Penulis Moch. Yusuf Zen, M.Pd.I, Kepala LPANI (Lembaga Pengembangan Pendidikan Agama dan Nilai Islam) Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar

 

Topik
puasa

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya