JATIMTIMES - Antusiasme masyarakat dalam menukarkan uang baru pada momen Lebaran 2026 di wilayah kerja Bank Indonesia Malang tercatat mengalami penurunan. Dari total uang layak edar yang disiapkan sebesar Rp 3,9 triliun, realisasi penukaran hanya mencapai Rp 3,2 triliun.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengungkapkan bahwa capaian tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya. “Jika dibandingkan dengan Lebaran 2025, jumlah penukaran uang baru tahun ini menurun sekitar 11,89 persen atau setara Rp 437 miliar,” katanya.
Baca Juga : 5 Hotel Baru Bintang 3-5 Hadir di Kota Malang, Dongkrak Pariwisata dan Investasi 2026
Tahun 2025, lanjut Indra, total penukaran uang baru mencapai Rp 3,6 triliun. Penurunan ini sebagai perubahan pola masyarakat dalam memenuhi kebutuhan uang tunai saat Lebaran.
Meski mengalami penurunan secara nominal, minat masyarakat terhadap pecahan uang tertentu tetap tinggi. “Pecahan Rp 5 ribu masih menjadi yang paling diminati dengan porsi sekitar 21 persen,” jelasnya.
Disusul pecahan Rp 10 ribu sebesar 20 persen, kemudian pecahan Rp 2 ribu sekitar 19 persen. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BI Malang menyiapkan sebanyak 12.700 paket uang baru. Setiap paket bernilai Rp 5,3 juta yang terdiri dari berbagai pecahan.
“Dalam satu paket terdapat pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu masing-masing 50 lembar, kemudian Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu, dan Rp 1 ribu masing-masing 100 lembar,” tambah Indra.
Distribusi paket tersebut juga dibatasi untuk pemerataan. “Kami membatasi satu orang hanya bisa menukarkan satu paket agar distribusi lebih merata ke masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga : Penumpang Naik 35 Persen, Jalur Rel Stasiun Malang ke Kota Lama Dicek
Di sisi lain, Indra tetap mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi peredaran uang palsu yang kerap muncul saat momentum transaksi tinggi seperti Lebaran. Ia menekankan pentingnya penerapan metode 3D dalam mengenali keaslian uang rupiah.
“Peredaran uang palsu tidak mengenal waktu, selalu ada oknum yang memanfaatkan kelengahan masyarakat. Karena itu, masyarakat harus lebih teliti saat menerima uang tunai,” tutupnya.
