Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Sejarah dan Filosofi Lebaran Ketupat: Tradisi Sarat Makna yang Dirayakan Setelah Idulfitri

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

26 - Mar - 2026, 07:29

Placeholder
Ilustrasi ketupat di Lebaran Ketupat. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang hingga kini masih terus dijaga dan dirayakan dengan penuh antusias. Perayaan ini bukan sekadar momen makan bersama dengan hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan sambal goreng, tetapi juga menjadi simbol kuat tentang kebersamaan, saling memaafkan, serta rasa syukur setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan.

Berbeda dengan Idulfitri yang dirayakan serentak, Lebaran Ketupat hadir sebagai perayaan lanjutan yang lebih bersifat kultural dan penuh nuansa kekeluargaan. Momen ini biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk kembali bersilaturahmi, bahkan dengan kerabat atau tetangga yang belum sempat dikunjungi saat hari raya pertama.

Baca Juga : Zodiak 26 Maret 2026 Lengkap: Peruntungan Cinta, Karier, dan Kesehatan Hari Ini

Kapan Lebaran Ketupat 2026?

Secara umum, Lebaran Ketupat dirayakan satu minggu setelah Idulfitri atau tepat pada tanggal 8 Syawal. Tradisi ini dilakukan setelah umat Muslim menyelesaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal yang biasanya dilaksanakan mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal.

Namun, pada tahun 2026 terdapat perbedaan penetapan 1 Syawal di Indonesia, sehingga tanggal Lebaran Ketupat pun ikut bervariasi di tengah masyarakat. Bagi yang merayakan Idulfitri pada 20 Maret 2026, maka Lebaran Ketupat jatuh pada 27 Maret 2026. Sementara itu, bagi yang merayakan Idulfitri pada 21 Maret 2026, perayaan ini jatuh pada 28 Maret 2026.

Perbedaan ini justru menjadi warna tersendiri dalam tradisi Lebaran di Indonesia, yang tetap menjunjung tinggi toleransi dan kebersamaan meskipun terdapat perbedaan waktu perayaan.

Sejarah Lebaran Ketupat

Mengutip dari laman NU Online, tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Beliau dikenal menggunakan pendekatan budaya lokal agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat saat itu.

Pada masa tersebut, masyarakat Nusantara telah mengenal tradisi selametan atau kenduri sebagai bentuk rasa syukur. Sunan Kalijaga kemudian mengadaptasi tradisi ini dengan nilai-nilai Islam dan memperkenalkan dua istilah penting, yakni Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran merupakan tradisi setelah salat Idulfitri yang diisi dengan kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan. Sementara itu, Bakda Kupat atau Lebaran Ketupat adalah perayaan yang dilakukan sekitar sepekan setelah Idulfitri sebagai pelengkap rangkaian ibadah Ramadan.

Lebaran Ketupat juga erat kaitannya dengan anjuran menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Perayaan ini menjadi simbol kemenangan yang lebih sempurna setelah umat Muslim tidak hanya menjalankan puasa Ramadan, tetapi juga menyempurnakannya dengan puasa sunnah tersebut.

Seiring waktu, tradisi ini berkembang luas di berbagai daerah, tidak hanya di Jawa tetapi juga di beberapa wilayah lain di Indonesia, meskipun dengan variasi cara perayaan yang berbeda-beda.

Filosofi Lebaran Ketupat

Ketupat sebagai ikon utama dalam perayaan ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan semangat Idulfitri, yaitu saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Tidak hanya dari segi nama, bentuk dan bahan ketupat juga sarat makna. Anyaman janur yang rumit menggambarkan kompleksitas kesalahan manusia selama menjalani kehidupan. Sementara itu, ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya yang berwarna putih melambangkan kebersihan hati dan kesucian setelah memohon ampunan.

Janur berwarna kuning yang digunakan sebagai pembungkus ketupat dalam budaya Jawa juga dipercaya sebagai simbol penolak bala atau perlindungan dari hal-hal buruk. Bahkan, di beberapa daerah, ketupat yang sudah matang digantung di depan rumah sebagai bentuk simbolis perlindungan bagi penghuni rumah.

Bentuk ketupat yang menyerupai segi empat juga dikaitkan dengan filosofi Jawa “kiblat papat lima pancer”, yang mengandung makna bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Sementara itu, beras sebagai isi ketupat melambangkan kemakmuran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik setelah melewati bulan Ramadan. Ini menjadi doa agar setiap orang dapat menjalani kehidupan yang lebih sejahtera dan penuh berkah.

Tradisi yang Dilakukan Saat Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat juga identik dengan berbagai tradisi yang memperkuat nilai kebersamaan dan budaya lokal. Berikut beberapa tradisi yang sering dilakukan masyarakat:

1. Membuat dan Membagikan Ketupat

Baca Juga : Wisata Pantai Malang Selatan Dipadati Pengunjung dari Luar Kota

Masyarakat biasanya memasak ketupat dalam jumlah banyak untuk dinikmati bersama keluarga sekaligus dibagikan kepada tetangga. Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi rezeki dan kebersamaan.

2. Kenduri atau Selametan

Di banyak daerah, Lebaran Ketupat dirayakan dengan kenduri atau doa bersama. Warga berkumpul membawa makanan, kemudian didoakan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

3. Silaturahmi dan Halal Bihalal

Momen ini dimanfaatkan untuk kembali bersilaturahmi, terutama kepada kerabat yang belum sempat dikunjungi saat Idulfitri. Suasana kekeluargaan biasanya terasa sangat kental.

4. Tradisi Kupatan atau Festival Ketupat

Di beberapa daerah, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdapat tradisi kupatan yang dirayakan secara meriah. Bahkan ada festival ketupat, arak-arakan, hingga pertunjukan seni budaya.

5. Menggantung Ketupat di Depan Rumah

Sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi menggantung ketupat di atas pintu rumah sebagai simbol penolak bala dan perlindungan dari hal-hal buruk.

6. Makan Bersama Hidangan Khas

Ketupat biasanya disajikan dengan opor ayam, sambal goreng, atau lauk lainnya. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan keluarga.

Lebaran Ketupat bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna spiritual dan sosial. Di balik sederhana bentuknya, ketupat menyimpan pesan mendalam tentang kehidupan, kesalahan, pengampunan, hingga harapan akan masa depan yang lebih baik.

Dengan terus dilestarikan dari generasi ke generasi, Lebaran Ketupat menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai agama, sekaligus memperkaya keberagaman budaya Indonesia.


Topik

Serba Serbi Ketupat lebaran ketupat kapan lebaran ketupat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Banyuwangi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi