Monumen Pancasila Jaya di Cemetuk Cluring Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)
Monumen Pancasila Jaya di Cemetuk Cluring Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)

Monumen Lubang Buaya Cemetuk atau juga disebut warga Monumen Pancasila Jaya adalah saksi bisu wafatnya 62 anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari Muncar, tanggal 15 Oktober 1965. Namun hingga kini cerita di balik peristiwa masih menjadi misteri, mengundang tanda tanya dan cenderung simpang siur. 

Sepenggal cerita duka peristiwa tersebut dikisahkan Nuryadi (50 tahun) warga Dusun Krajan, Desa/kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Mantan Sekretaris Desa (Sekdes) Cluring periode 1995-2001 ini menceritakan peristiwa kelam kekejian yang terjadi 55 tahun lalu berdasarkan keterangan saksi hidup yang sempat ditemuinya.

Baca Juga : Viral di Tulungagung: Janda Bolong, Larangan Scuba, Hingga Terungkapnya Dua Istri TKI Serong

Menurut dia, hari itu ada rombongan para pemuda Ansor dari kecamatan Muncar hendak ke wilayah Karang Asem (kini menjadi Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, red). Peristiwa ini terjadi  18 Oktober 1965 silam. Sesampainya di pertigaan Cluring, mereka bertanya arah Karangasem ke petugas penjaga pos OPR (Istilah OPR kini menjadi Hansip). 

Kemudian petugas  mengarahkan rombongan tersebut ke arah Jajag. Setibanya di Karang Asem, para pemuda tersebut dikepung oleh pihak musuh. Para pemuda ini terhambat batang pepohonan yang sudah ditebangi. Diduga terjadi serangan sehingga para pemuda lari ke arah timur (Cemetuk, red). Dalam upaya meloloskan diri dari kepungan musah, sebagian meninggal dunia dan mayatnya tercecer di jalan. 

“Jenazah para pemuda tercecer di pinggir jalan. Ada juga yang selamat dari peristiwa kelam itu. Kemudian, jenazah-jenazah itu dikumpulkan di rumah ketua perguruan PKI yang ada di sini. Kemudian dimasukkan ke 3 lubang,” jelas Nuryadi (50) yang bercerita berdasarkan keterangan saksi hidup, Kamis (1/10/2020). 

Tiga hari kemudian, lanjut Nuryadi, korban pembantaian ini dikembalikan ke keluarganya dengan diangkut menggunakan truk. Namun sayang, data para korban pembantaian itu hingga kini belum diketahui. 

“Dikembalikan ke keluarganya. Mereka itu Pemuda Ansor," ujarnya.

Lubang Buaya di Cemetuk, lanjut Nuryadi,  terdapat 3 lubang. Di mana dengan peristiwa tragis itu, masing-masing lubang berisikan 10, 10 dan 42 jenazah. Jumlah korban dari Pemuda Ansor di Cemetuk inilah yang hingga kini bisa dilihat. Pasalnya, di monumen itu di tulis 62 Pemuda Pancasila. 

"Juga terdapat replika peristiwa kelam saat itu,” pungkas Nuryadi.