Kuliner Ngopi Bengi Lungguh Lan Ngopi Desa Olehsari Glagah Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)
Kuliner Ngopi Bengi Lungguh Lan Ngopi Desa Olehsari Glagah Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)

Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparekraf) RI telah memasukan Banyuwangi dalam 10 daerah di Indonesia yang di-branding untuk dipromosikan sampai mancanegara. Kemenparekraf telah menetapkan juga branding itu, yaitu "Majestic Banyuwangi" yang artinya kemegahan.

Majestic Banyuwangi didasarkan dengan geliat pariwisata Banyuwangi yang terbilang luar biasa. Selain keindahan alam yang disajikan, kota yang dikenal sebagai serpihan surga di ujung timur Pulau Jawa ini juga memiliki beragam kekayaan seni budaya, aneka macam makanan dan minuman modern dan tradisional yang siap memanjakan lidah dan selera bagi pecinta kuliner.

Baca Juga : Wisata Kuliner di Banyuwangi, Coba Menu-Menu Khas Ini yang Bakal Manjakan Lidahmu!

 

Salah satu sajian makanan khas masyarakat Oesing bisa didapatkan dalam juliner Bengi Lungguh lan Ngopi, sentra makanan tradisional yang ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurut Joko Mukhlis, Kepala Desa (Kades) Olehsari, sentra kuliner tradisional yang buka setiap malam minggu dari pukul 17.00 s/d 21.00 -22.00 WIB. Dibuka di penjuru atau tiga juru, yaitu Gang Tunjung biru, Gang Sawunggaling dan Gang Seblang Desa Olehsari yang biasa dilalui wisatawan yang akan ke wanawisata Gunung Ijen.

”Usaha rakyat yang saat ini dikelola oleh paguyuban yang dibentuk pedagang mampu menampung sekitar 80 warga untuk membuka lapak jualan makanan minuman serta jajanan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat,” terangnya.

Ayah dua anak itu menuturkan, hingga pekan kelima pasca masa tanggap darurat Covid-19, rata-rata ada sekitar 500 sampai dengan 1.000 pengunjung yang datang menikmati jajanan khas Orsing. Seperti, kucur, lodhoh lonthong, orog-orog, puthu, kulpang ucen-uceng clorot, ketan tapetot dan lain lain. 

Kemudian minuman yang disajikan oleh pedagang adalah minuman tradisional seperti, temu lawak, dawet, kopi dan teh serta aneka minuman yang bagus untuk kesehatan karena dicampur dengan rempah-rempah.

Satu hal yang menjadi pembeda antara dalam tata kebiasaan baru atau era new normal dibanding masa sebelumnya adalah adanya sekat antara lapak satu pedagang dengan yang lain. Kemudian para pedagang dan penyaji wajib mematuhi protokol kesehatan mulai dari mengenakan masker, face shiled, selalu menjaga jarak dan aturan lain yang ditetapkan oleh tim Gugus Tugas Covid-19 Banyuwangi.

Alumni SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi itu menambahkan, untuk meningkatkan mutu dan kualitas layanan maupun jajanan yang disajikan membentuk paguyuban pelaku kuliner Desa Olehsari yang melakukan wadah evaluasi setiap minggu.

Bagi pedagang selalu diingatkan untuk menyajikan jajanan yang berkualitas higienis dan menghindari penggunaan bahan kimia yang kurang baik bagi kesehatan.

Baca Juga : Bu Sisca "Gantung Panci" dari Dunia Kuliner, Tagar #BuSisca Trending!

 

"Selain menghindari pemakain penyedap rasa dan bahan kimia untuk pewarna makanan, kami menyarankan menggunakan bahan yang alami sehingga aman dan sehat bagi konsumen maupun bagi pedagang,” imbuh Joko.

Agar potensi kuliner Desa Olehsari lebih cepat tumbuh dan berkembang, Joko berharap agar pemerintah daerah mendukung sarana prasarana yang representatif. Utamanya fasilitas yang ada di wilayah yang ada lapak pedagangnya agar bangunan yang ada memenuhi standar yang pas bagi destinasi wisata. Serta dapat mendatangkan wisatawan asing maupun luar kota Banyuwangi tertarik datang dan berkunjung ke Kuliner Bengi Lungguh lan Ngopi di Desa Olehsari, Glagah Banyuwangi.