Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

Akses pendidikan bagi masyarakat Indonesia kini makin terbuka, termasuk hingga jenjang perguruan tinggi. Tentunya, tuntutan untuk syarat kelulusan mahasiswa perguruan tinggi lebih berat dibanding sekolah menengah. Salah satu yang menjadi momok adalah skripsi.

Pengerjaan skripsi yang menjadi salah satu syarat kelulusan dan ujian terakhir bagi mahasiswa ini kerap membuat depresi. Mulai dari sulitnya bahan yang dibahas hingga faktor bimbingan, lama pengerjaan, dan lain-lain.

Baca Juga : Polemik Mutasi Kilat Harry Setia Budi, Pakar dari UB : 5 Bulan Apa Bisa Menilai Kinerjanya

Mirisnya, dalam satu dekade terakhir terjadi sejumlah kasus bunuh diri mahasiswa tingkat akhir gara-gara depresi mengerjakan skripsi. Terlepas dari faktor-faktor lain yang menambah kegalauan para pejuang skripsi, YogyakartaTIMES dalam laporan khusus ini akan membahas soal fenomena tersebut.

Berdasarkan penelusuran YogyakartaTIMES, dalam kurun Januari-Juli 2020 ini saja sudah ada 3 kasus bunuh diri akibat skripsi yang diunggah media. Daftar kasus semakin panjang, jika dirunut di tahun-tahun sebelumnya.

Setidaknya 10 nyawa anak bangsa melayang gara-gara skripsi sejak 2014 silam. (Selengkapnya lihat grafis.)

Beberapa kasus yang menarik perhatian, di antaranya pada Juli 2020, seorang mahasiswa semester 14 di Samarinda Kalimatan diduga bunuh diri karena depresi. Kasus ini menjadi perbincangan marak di Twitter saat diunggah oleh akun @collegemefess pada 13 Juli.

"[cm] sedih banget gak sih liat berita kayak gini. Skripsi buat S1 itu gak perlu yg susah-susah banget," tulis akun tersebut sembari menautkan sebuah tangkapan layar berita berjudul Skripsi Selalu Ditolak, Mahasiswa Semester 14 Ini Akhiri Hidup Gantung Diri di Rumah.

Saat ini, unggahan tersebut telah menuai 12,2 like serta dibagikan dan dikomentari 3,4 ribu warga Twitter. "Kenapa ya sumpah bisa sampe gini? Takut banget jadinya mikirin skripsi. Kuliah biasa aja udah berat berkali kali mikir mau mati, apalagi skripsian gini," demikian komentar yang ditulis akun @renrenyawn sembari menambahkan emoticon menangis.

Dalam utasan yang sama, ditautkan juga berita bahwa mahasiswa tersebut sebenarnya sudah menyelesaikan seminar proposal pada 24 Juni 2020 lalu. Dijelaskan juga bahwa si mahasiswa masih menjalani bimbingan dengan dosen pada 10 Juli, sebelum aksi bunuh diri dilakukan.

Baca Juga : Pakar dari UB Nilai Mutasi Kilat Harry jadi Kepala Dinas Mencederai Etika Birokrasi

Sementara pada Januari 2020, kejadian serupa menimpa mahasiswa asal Mlati, Sleman, Yogyakarta. Lalu pada Mei 2020, seorang mahasiswa ditemukan tewas gantung diri di Komplek Bumi Serang Baru, Kelurahan Kaligandu, Kecamatan Serang, Kota Serang.

Mengamati banyak banyak kasus bunuh diri diduga karena depresi skripsi ini, YogyakartaTIMES akan mengulas berbagai sisi fenomena tersebut. Mulai dari curahan hati (curhat) para pejuang skripsi, dosen-dosen pembimbing senior, hingga pandangan psikolog dalam seri selanjutnya.

----------------------------

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa. Depresi bukanlah persoalan sepele. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, maupun melihat teman atau kerabat memperlihatkan tendensi tersebut, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.