Kapal nelayan sedang sandar di kawasan Pantai Boom Banyuwangi (Nurhadi/ JatimTIMES)
Kapal nelayan sedang sandar di kawasan Pantai Boom Banyuwangi (Nurhadi/ JatimTIMES)

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Wabah Covid-19 Kabupaten Banyuwangi sudah meminta kepada camat setempat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di tingkat kecamatan  untuk koordinasi dengan Forpimka dan komponen terkait untuk melakukan kontrol dan pengawasan terhadap pelabuhan rakyat sebagai pintu masuk setelah melakukan evaluasi.

Menurut dr. Widji Lestariyono yang akrab dipanggil dr Rio, salah seorang anggota
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Wabah Covid-19 Kabupaten Banyuwangi, pihaknya terus berjuang keras untuk memutus mata rantai penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) dengan melakukan pengetatan dicek point di pintu-pintu masuk kota Banyuwangi mulai Kalibaru, Kecamatan Wongsorejo, Licin dan kawasan Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. 

"Dari hasil evaluasi tapi ternyata ada pintu masuk lain yaitu pelabuhan rakyat contohnya Pantai Boom Banyuwangi dan pantai-pantai yang lain mulai pantai Bimo di Kecamatan Wongsorejo sampai dengan Pantai Pancer Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi," ujarnya.

Selanjutnya dokter kelahiran Surabaya itu menuturkan di kawasan pelabuhan rakyat tersebut  setiap hari masyarakat terlihat melakukan aktivitas bongkar muat barang kapal antar pulau maupun jual beli hasil tangkapan ikan nelayan.

Lebih lanjut dokter alumni Universitas Airlangga Surabaya itu menambahkan mengutip seperti yang disampaikan Wakil Bupati Banyuwangi jika mereka datang ke kota Banyuwangi ya harus  diterima. Tidak mungkin ditolak karena sebagian juga warga Banyuwangi dan yang terpenting dari mereka mau mengikuti program isolasi secara benar. 

"Itu merupakan kunci pencegahan dan penanggulangan penyebaran wabah Covid-19 ini apakah kemudian satgas desa yang mempunyai peran dan fungsi untuk melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap isolasi di wilayahnya. Itu menjadi penting ya artinya silahkan mereka datang ke kota Gandrung tapi wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan pemerintah Banyuwangi dan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah," tegasnya.

Dari pengamatan di lapangan, para nelayan, tenaga kuli bongkar muat pelabuhan (TKBM) maupun para pengepul dan pembeli ikan kurang memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. 

Disamping itu tidak terlihat ada petugas pelabuhan maupun satgas Covid- 19 Kecamatan dan kelurahan yang mengingatkan para nelayan maupun masyarakat lain yang melakukan aktivitas di lokasi yang sama.

Mereka sebagian besar tidak mengenakan masker, tidak mencuci tangan dengan menggunakan sabun, tidak menjaga jarak fisik maupun jarak sosial serta aturan protokol kesehatan yang lain.

Sementara M Lutfi, Camat Kota sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Kota Banyuwangi mengaku pihaknya memiliki program Getar RT yaitu Gerakan Tamu wajib lapor Rt.

Program tersebut merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan para ketua RT dan aparat kelurahan di Banyuwangi dalam upaya memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19 di Banyuwangi.

"Mereka siaga penuh konsentrasi dan serius menjaga kota Banyuwangi yang sebagian besar masih masuk zero kasus Covid-19. Kami akan melakukan sock terapi pada tempat yang dinilai kurang memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah,salah satunya aktivitas di pelabuhan Boom Banyuwangi," tegasnya.

Selanjutnya Lutfi menuturkan disamping terus melakukan sosialisasi dan edukasi bagi warga, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan pengelola pelabuhan untuk bersama-sama terlibat aktif dalam mendukung program pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.