Lama Meredup, Batu Akik di Tangan Pria Ini Tetap Laku | Banyuwangi Times
penjaringan-bakal-calon-jatimtimes099330c15d1b4323.jpg

Lama Meredup, Batu Akik di Tangan Pria Ini Tetap Laku

Sep 14, 2016 10:00
Sunoto dengan piala batu akiknya (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)
Sunoto dengan piala batu akiknya (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)

Booming batu akik memang sudah lewat. Tetapi, pemain lama bisnis batu akik ternyata tak ikut kolaps. Mereka tetap melayani para pecinta sejati batu.

"Batu akik masih jalan, kalau pecinta batu sejati tidak akan meninggalkan hobinya," kata kolektor batu akik, Moh. Sunoto Adilaga kepad BanyuwangiTIMES.

Pengurus Komunitas Batu Akik Banyuwangi (Kumbang) ini menuturkan, di saat musim batu akik beberapa waktu lalu banyak orang yang awalnya tidak suka batu ikut terpengaruh, lalu menyukai batu.

"Orang yang terbawa-bawa suka batu, sekarang pas tidak musim batu mereka tidak lagi suka batu," katanya.

Parahnya lagi, kata dia, banyak pedagang yang kurang mengerti estetika batu, ikut menjadi pedagang batu. "Banyak pedagang batu yang tak ngerti batu, ngertinya bati (untung)," ujar warga asal Ketapang ini. 

Sunoto sudah hobi batu akik sejak tahun 1990-an. Lima tahun lalu, ia membuka usaha batu akik. Pelanggannya dari berbagai daerah, termasuk dari luar Bayuwangi.

Batu yang dijual kebanyakan batu akik bergambar, harga termurah mulai Rp 1 juta. Selain menjual batu akik, ia juga memiliki banyak  sertifikat keaslian batu yang dibuat berdasarkan tes laboratorium.

Batu bersertifikat adalah batu istimewa, seperti bacan yang harganya mencapai Rp 20 juta, serta safir yang harganya antara Rp 3 juta sampai Rp 30 juta, tergantung warna dan asal negara. Harga safir dari Srilangka berbeda dengan safir Tanzania.

Jauh sebelum booming batu, Sunoto pernah menjual batu bacan hanya Rp 2,5 juta. Sebelumnya ia membeli bacan tersebut Rp 200.000. "Sekarang meskipun tidak musim, batu mahal masih tetap mahal. Malah tren-nya naik terus," katanya.

Justru kata dia, saat booming beberapa waktu lalu, penjualan batu di tempatnya justru stabil, bahkan sering tutup. Sebab, banyak yang hanya sekadar bertanya.

Ia bercerita, di musim batu banyak menerima konsultasi. Ada yang membawa batu, padahal kaca. Lalu, ada yang membawa batu biasa disangkanya batu istimewa, dan lain-lain.

"Biasanya saya sarankan mereka cek langsung ke laboratorium. Kalau saya bilang kaca atau bukan batu asli nanti kan malah bermasalah, terus saya kebawa-bawa," ujarnya.

Saat ini, batu bergambar masih diburu. Dalam satu bongkah batu, ia akan meneliti serat mana yang layak untuk dipotong. Jika beruntung, ada serat yang mirip-mirip tulisan Arab, pohon, atau gambar tertentu, maka serat itulah yang ia bentuk menjadi batu.

"Yang masih eksis motif gambar. Batu saya pernah juara umum di Sumenep-Madura dalam kontes batu akik nasional, yaitu motif Putri Sritanjung dan motif ikan. " tuturnya.

Ia mengaku masih memiliki batu akik jenis 'Putri Sritanjung', dibandrol Rp 25 juta. Namun, masih belum dilepas karena penawaran baru Rp 23 juta. Batu ini pernah juara satu di Banyuwangi.

Dijelaskan, semua motif tersebut dibuat dari bongkahan batu asli tanpa campuran dari unsur benda atau barang lain. "Motif tumbuhan, pemandangan, tokoh, hewan, angka, benda pusaka seperti keris juga masih laris," jelasnya.

Maka tidak heran, dari modal awal sekitar Rp 3 jutaan berupa bongkahan dan jadi. Dirinya pernah mengantongi omzet sampai Rp 50 juta.

"Pernah membeli bongkahan batu dengan harga Rp 275.000 karena motifnya bagus, laku Rp 15 juta. Dibeli kolektor dari Jawa Tengah," katanya sambil menunjukkan beberapa jenis batu dan motif akik bergambar.

Selain itu, masa batu rubah Banyuwangi, menjadi momentum istimewa. Sebab, cepat mendapat keuntungan. Termasuk batu motif kelabang. Menurutnya, mulai 2014 sampai saat ini, animo masyarakat terbilang menurun. Pemicunya, kebanyakan hanya sebatas suka, tapi tidak bagi pecinta batu akik.

Meski begitu, pihaknya tetap eksis dan membuat kegiatan-kegiatan berkaitan batu akik. Sunoto masih memiliki koleksi 12 batu akik bersertifikat GRI- Gem Research International Lab, dengan kriteria batu tanpa treatment atau buatan.

"Saya sekarang masih tetap beli bongkahan yang datangkan dari Sulawesi. Namanya Maligano,” jelasnya. Dia juga memiliki koleksi 522 batu akik siap pakai dari berbagai jenis batu se- Indonesia. Motifnya beragam, jika dikalkulasi nilainya sekitar Rp 60 juta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Batu Akik Banyuwangi

Berita Lainnya