Para aktivis Komunitas Koppiwangi (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)
Para aktivis Komunitas Koppiwangi (Foto : Widie Nurmahmudy/BanyuwangiTIMES)

Komunikasi antar pengguna jejaring sosial menjadi sejarah awal terbentuknya Koppiwangi (Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi) ini.

Dengan rasa keprihatinan yang sama terhadap dunia pendidikan, para peselancar dunia maya tersebut akhirnya membuat gagasan untuk membangun komunitas peduli pendidikan. Dan muncullah, Koppiwangi, Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi.

Komunitas ini memiliki ciri yang khas. Baju warna hitam dengan kombinasi batik warna merah, kemudian, ada logo segelas kopi yang masih mengepulkan asap di bagian dada sebelah kiri.

Menariknya, ada tulisan yang istimewa di logo tersebut. “Secangkir Kopi untuk Pendidikan”. Itulah sekilas gambaran dari komunitas Koppiwangi.

Meski terbilang komunitas baru, namun Koppiwangi sudah memiliki jam terbang tinggi untuk melakukan kunjungan dalam rangka aksi sosialnya.

Komunitas yang dirancang oleh sekelompok komunitas online ini awalnya melakukan diskusi melalui media social. Kemudian, temu darat dan membicarakan masalah pendidikan dan social.

Menurut ketua Koppiwangi, Mujiono. Dari rasa keprihatinan kelompok online tersebut. Pada akhirnya menciptakan komunitas Koppiwangi yang konsen membantu anak-anak Banyuwangi supaya bisa melanjutkan pendidikannya.

“Kita tahu, jika di Banyuwangi banyak sekali anak-anak yang putus sekolah hanya karena alasan biaya. Selain itu, anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan cenderung enggan untuk bersekolah.” ungkap Mujiono kepada Banyuwangi TIMES.

Mujiono menambahkan, dengan kondisi tersebut, pihaknya tidak hanya sekedar membantu anak-anak yang putus sekolah maupun anak-anak yang kurang mampu. Akan tetapi, Koppiwangi juga mensupport semangat, mental dan financial mereka.

“Terutama adalah membangun mental anak-anak yang kurang mampu agar tetap belajar. Sebab, biasanya anak-anak yang tidak mampu dan bersekolah akan menghadapi tekanan. Entah dari teman-temannya, guru dan juga lingkungan”. ujarnya.

Koppiwangi sendiri, lanjut Mujiono, saat ini bukan hanya sekedar komunitas yang hanya bersatu karena anggota maupun pengurusnya memiliki angan-angan yang sama.

Sebab, yang tergabung dalam Koppiwangi sendiri adalah orang-orang yang sudah memiliki komunitas dengan membidik visi misi yang berbeda.

Namun, karena demi membangun generasi yang harus mengenyam pendidikan, semua orang yang bergabung bersama Koppiwangi sudah memiliki komitmen yang sama yakni membantu anak-anak untuk bisa menikmati pendidikan.

“Kami sebenarnya berasal dari karakter dan latar belakang yang berbeda. Sedikit yang mempunyai basic guru. Karena perbedaan itulah, kami semua bisa saling mengisi di Koppiwangi”. tuturnya.

Bahkan, tambah Mujiono, penggagas dari Koppiwangi sendiri adalah orang yang aktif di komunitas Banyuwangi Online Community (BOC) dan ada juga dari komunitas Banyuwangi Bersatu.

Masing-masing anggota, pengurus dan partisipan yang ada di Banyuwangi bisa membantu memberikan pendidikan juga sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Selain itu, kini Koppiwangi juga telah memiliki anak asuh. Setiap bulan, bagi anak asuh Koppiwangi selalu dibantu dana untuk meringankan beban orang tuanya.

Tujuannya masih tetap sama yaitu untuk mengentaskan anak-anak putus sekolah yang disebabkan oleh tidak adanya biaya.

“Kami saat ini juga sedang melakukan pendataan bagi anak-anak yang kurang mampu. Semua tim juga saling menyisir diwilayahnya masing-masing.” ucap pria yang tinggal di Singotrunan tersebut.(*)