Kabid Pemberdayaan Perempuan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banyuwangi, Fitrin Kuntartini, S.sos M.si,, (Foto: Syarif/banyuwangiTIMES)
Kabid Pemberdayaan Perempuan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banyuwangi, Fitrin Kuntartini, S.sos M.si,, (Foto: Syarif/banyuwangiTIMES)

Fitrin Kuntartini, S.sos M.si, Kabid Pemberdayaan Perempuan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banyuwangi, mengatakan akan melakukan pendampingan terhadap tiga gadis pelajar korban asusila. Langkah tersebut sengaja diambil untuk menyelamatkan kejiwaan para korban yang masih dibawah umur.

Terlebih akibat kejadian ini, ketiga korban, SV dan HN, warga Desa Benculuk, Kecamatan Cluring serta ST warga Desa Sraten, Kecamatan Cluring, sampai dikeluarkan dari sekolah.

"Besok kita akan koordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan lalu datang ke sekolahan untuk minta agar mereka diijinkan kembali bersekolah,” katanya, Rabu (2/3/2016).

Kedatangan tiga korban perbuatan bejad Gus Wahid, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, ke kantor P2TP2A ini diantar oleh petugas PPA Polres Banyuwangi.

Sebelumnya, mereka sengaja datang ke Polres untuk menanyakan sekaligus kembali melaporkan perbuatan sang Kiai. Alasannya, kasus tersebut sudah masuk ke meja polisi sejak sebulan lalu, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.

Kepada petugas P2TP2A, tiga korban yang masih usia belia menceritakan seluruh perbuatan tidak senonoh pelaku. Mulai awalanya hanya sekedar diajak karaoke sambil menenggak minuman keras hingga disetubuhi layaknya pasangan suami istri.

“Kita akan datangi keluarga para korban agar lebih perhatian sehingga kejiwaan mereka tetap baik – baik saja, apalagi kasus ini juga belum selesai,” pungkas Fitrin. (*)