Eks Gafatar, Merantau ke Kalimantan Hanya untuk Merubah Nasib | Banyuwangi Times
Indonesia Melawan Radikalisme

Eks Gafatar, Merantau ke Kalimantan Hanya untuk Merubah Nasib

Jan 28, 2016 14:24
Anak - anak eks Gafatar asal Banyuwangi sedang asyik bermain dan belajar di tempat penampungan. (Foto: syarif/banyuwangitimes)
Anak - anak eks Gafatar asal Banyuwangi sedang asyik bermain dan belajar di tempat penampungan. (Foto: syarif/banyuwangitimes)

Hingga hari ini, pembinaan terus dilakukan terhadap 18 eks Gafatar asal Banyuwangi. Majelis Ulama Indonesia (MUI), jajaran Pemerintah Daerah, instansi terkait serta relawan silih berganti memberi pembinaan.

Di gedung Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Tagana setempat, eks Gafatar anak – anak dan orang tua diberi pembinaan terpisah. Untuk anak – anak, mereka diajak belajar sambil bermain.

Raut wajah para bocah ini terlihat sangat riang. Mereka juga mudah bergaul, sehingga sudah sangat akrab dengan relawan dari tenaga pengajar tersebut.

Dari pantauan BANYUWANGITIMES di lokasi, hari ini mereka diajak membuat patung dari lilin. Sedang beberapa yang masih usia balita, juga terlihat sibuk merangkai puzzle.

Mainan para anak eks Gafatar ini adalah pemberian dari relawan serta jajaran Pemerintah Daerah yang iba melihat kondisi mereka.

Sementara itu, orang dewasa, terutama para Kepala Keluarga, Paino, Warni dan Kamari, dibina diruang lain. Agar tidak terkesan kaku, pola pembinaan juga diberikan dengan diskusi ringan.

Saat itu, ada Ketua MUI, Muhammad Yamin, Kepala Kesbangpol Banyuwangi, Djafri Yusuf, serta perwakilan TNI dan Polri bersama mereka. Seperti kawan lama, mereka juga cukup intim dalam perbincangan.

“Harapan saya, kalau bisa kita ingin kembali seperti semula,” ucap Warni, salah satu eks Gafatar asal Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (28/1/2016).

Ungkapan polos yang keluar dari bibir bapak dua anak ini bukan tanpa alasan. Selain karena merasa sudah tidak bergabung Gafatar, usaha pertanian dan peternakan yang dilakukan di Mempawa, Kalimantan Barat, juga sudah mulai berkembang.

“Sejak dilarang pemerintah, Gafatar disana itu sudah langsung dibubarkan, sejak Agustus 2014,” jelasnya.

Warni juga menegaskan bahwa kepindahan keluarganya dan dua keluarga asal Banyuwangi lainnya ke Mempawa, Kalimantana Barat, bukan untuk Gafatar. Melainkan untuk mencari perubahan ekonomi. (*)

Topik
Indonesia Melawan Radikalisme Gafatar MUI

Berita Lainnya