Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Januari Terasa Lebih Lama? Ini Penjelasan Psikolog 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

29 - Jan - 2026, 10:56

Placeholder
Kalender Januari 2026. (Foto: Pinterest)

JATIMTIMES - Pernah merasa bulan Januari berjalan lebih lambat dibanding bulan-bulan lain? Padahal, jumlah harinya sama saja, yakni 31 hari. Namun, fenomena “Januari terasa panjang” ini ramai jadi keluhan warganet di media sosial.

Banyak orang mengaku bulan pertama dalam kalender ini seperti berlarut-larut, terasa melelahkan, bahkan seolah tidak kunjung selesai. Ternyata, menurut para ahli, ada beberapa alasan psikologis dan situasional yang membuat Januari terasa lebih lama dibanding bulan lainnya.

Baca Juga : BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Hingga 30 Januari, Berikut Wilayahnya 

Psikolog klinis Chloe Carmichael menjelaskan, Januari sering terasa berat karena menjadi masa transisi setelah euforia liburan panjang di Desember berakhir.

Orang yang sebelumnya menikmati suasana santai, kumpul keluarga, hingga liburan akhir tahun, mendadak harus kembali ke rutinitas. Perubahan suasana ini memicu penurunan hormon kebahagiaan.

"Jadi (setelah liburan), mungkin ada perasaan menipisnya zat-zat kimia tersebut (dopamin: yang membuat seseorang merasa bahagia). Rasanya seperti ada yang menarik 'karpet emosional' dari bawah kita, (dan ini) sangat kontras setelah liburan yang menyenangkan," ungkapnya, dikutip Yahoo Life UK.

Dalam konteks ini, Januari pun terasa lebih panjang karena mood yang menurun membuat waktu berjalan seperti melambat.

Peneliti persepsi waktu, Zhenguang Cai, mahasiswa PhD di University College London (UCL), menilai salah satu penyebab terbesar adalah karena Januari dipenuhi rutinitas kerja yang monoton.

Jika dibandingkan dengan Desember yang penuh kegiatan menyenangkan, Januari terasa seperti hanya berisi pekerjaan semata.

"Januari, di sisi lain, hanya berisi pekerjaan. Dan pada akhirnya, ini menjadi alasan utama mengapa bulan ini terasa sangat lama. Rasa senang tampaknya menjadi faktor terbesar yang menentukan apakah waktu terasa berjalan cepat atau lambat," ujar Cai, dikutip dari New Statesman.

Artinya, semakin sedikit hal menyenangkan dalam keseharian, semakin lambat pula waktu terasa berjalan. Fenomena ini juga berkaitan dengan teori psikologi yang disebut hipotesis jam dopamin.

Teori ini menjelaskan bahwa dopamin, zat kimia dalam otak yang berkaitan dengan motivasi dan rasa senang, dapat memengaruhi persepsi waktu.

Saat dopamin tinggi, seseorang merasa lebih bersemangat sehingga hari-hari terasa lebih cepat berlalu. Sebaliknya, ketika dopamin menurun, waktu bisa terasa jauh lebih lambat.

Meski teori ini masih terus diteliti, banyak ahli percaya bahwa perubahan suasana hati setelah liburan berperan besar dalam efek “Januari panjang”.

Baca Juga : Kabulkan 63 Perkara, PA Magetan Ungkap Alasan Dominan di Balik Permohonan Dispensasi Kawin

Psikolog klinis Pauline Wallin juga menambahkan, Januari sering identik dengan rutinitas yang kembali monoton. Kondisi ini bisa membuat seseorang merasa tertekan atau bosan.

"Ada banyak faktor yang memengaruhi cara kita merasakan waktu. Secara umum, ketika kita merasa tidak nyaman, sakit, bosan, atau cemas, kita cenderung lebih fokus pada ketidaknyamanan itu dan seberapa lama hal tersebut berlangsung," jelasnya, seperti dilansir New York Post.

Menurutnya, ketika seseorang merasa cemas atau tidak nyaman, fokusnya justru tertuju pada lamanya situasi tersebut berlangsung, sehingga waktu terasa berjalan sangat lambat.

Selain faktor psikologis, kondisi finansial juga punya peran besar. Setelah liburan akhir tahun, banyak orang mulai menyadari pengeluaran mereka membengkak.

Psikolog Chloe Carmichael menyebut fase “dompet menipis” setelah belanja besar-besaran di akhir tahun dapat memengaruhi kesejahteraan emosional.

"Banyak orang mungkin telah mengeluarkan uang secara berlebihan, sehingga hal tersebut dapat berdampak pada rasa kesejahteraan," ujarnya, dikutip Yahoo Life UK.

Tekanan untuk kembali berhemat di awal tahun pun membuat Januari terasa semakin berat dan panjang.

Dari penjelasan para ahli, Januari terasa lebih lama bukan karena jumlah harinya berbeda, melainkan karena kombinasi berbagai faktor. Mulai dari turunnya mood setelah liburan, rutinitas yang kembali monoton, dopamin yang menurun, hingga tekanan finansial. Jadi kalau kamu merasa Januari seperti tidak ada habisnya, tenang saja, kamu tidak sendirian.


Topik

Serba Serbi Januari bulan januari Januari terasa panjang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Banyuwangi Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni