Warga Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, yang bernama "Tuhan". (Foto: syamsul arifin/banyuwangitimes)
Warga Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, yang bernama "Tuhan". (Foto: syamsul arifin/banyuwangitimes)

BANYUWANGITIMES – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi, KH Yamin, menyarankan penambahan pada nama “Tuhan” yang dimiliki warga Desa Kluncing, Kecamatan Licin. Menurutnya, nama “Tuhan” dengan tanpa ada embel–embel, kurang etis jika disandang oleh manusia. Karena bisa mengurangi nilai keagungan nama tersebut.

“Lebih baik diberi tambahan, seperti Abdi Tuhan, Berkah Tuhan, atau lainnya,” katanya via selular, Jumat malam (21/08/2015).

Memiliki nama apapun, sambung Yamin, adalah hak setiap manusia. Namun, sebelum kita berbicara hak kita, yang perlu diingat adalah bahwa ada hak orang lain yang perlu dihargai juga.

“Masak jika manusia menyembah Tuhan, lalu memanggil manusia lain juga Tuhan?, kan kurang bagus juga,” ucap salah satu ulama yang dituakan di Banyuwangi ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, memiliki nama yang unik, yakni “Tuhan”. Nama itu diberikan sejak lahir oleh almarhum kedua orang tuanya. (*)