Ilustrasi. (Foto: googleimage)
Ilustrasi. (Foto: googleimage)

BANYUWANGITIMES– Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai posisi rupiah terhadap dolar AS di posisi Rp 13.758, sudah mengalami pelemahan telah terlalu dalam (overshoot). Kondisi itu membawa rupiah berada jauh di bawah nilai fundamentalnya (undervalued).

Apa langkah BI? Agus menjelaskan, BI akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. ’’Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan dan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas lainnya,” kata Agus dalam siaran pers yang diterima TIMESINDONESIA beberapa saat lalu (12/8).

Agus juga menilai, perkembangan rupiah dalam beberapa terakhir ini terutama disebabkan oleh perkembangan global. Ia menyebut, pasar masih bereaksi terhadap keputusan pemerintah Tiongkok yang melakukan depresiasi mata uang Yuan.

Langkah tersebut, lanjut Agus, dilakukan Pemerintah Tiongkok untuk mempertahankan kinerja ekspornya yang menurun drastis sebesar 8,3% (yoy) pada Juli 2015. Kondisi itu merupakan penurunan terbesar dalam 4 bulan terakhir.

Secara global, menurut Agus, depresiasi Yuan tersebut memberi dampak pada negara-negara mitra dagang Tiongkok yang ekspornya mengandalkan sumber daya alam, termasuk Indonesia.
’’Kebijakan depresiasi seperti itu pernah dilakukan pemerintah Tiongkok pada tahun 1994, yang juga berdampak pada perekonomian global saat itu,” papar Agus.

BI sendiri mencatat, secara umum hampir seluruh mata uang global mengalami depresiasi. Sebagai ilustrasi, mata uang Ringgit Malaysia melemah sebesar 13,3% (ytd), Korean Won melemah sebesar 7,9% (ytd), Thailand Baht melemah sebesar 7,4% (ytd), Yen Jepang melemah 4,8% (ytd), Euro melemah sebesar 8,9% (ytd), Brasilian Real melemah 29,4% (ytd), dan Australian Dolar melemah sebesar 10,6% (ytd). Sementara Rupiah dari Januari hingga Minggu I Agustus 2015 melemah sebesar 9,8%. (*)