Cuaca Tidak Menentu, DPRD Jatim Dorong Pemprov Mitigasi Dampak ke Petani dan Nelayan
Reporter
Muhammad Choirul Anwar
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
18 - Jan - 2026, 07:21
JATIMTIMES - Cuaca ekstrem dan tak menentu mulai menimbulkan dampak serius bagi sektor pangan di Jawa Timur (Jatim). Hal ini menjadi perhatian serius bagi anggota Komisi B DPRD Jatim Ony Setiawan.
Ia menyebut, nasib petani dan nelayan turut terdampak adanya cuaca yang tak menentu. Gagal panen atau puso mengancam petani, sementara nelayan pun tak bisa melaut akibat gelombang dan angin kencang.
Baca Juga : Tak Ingin Mudah Terserang Flu? Ini Tips Jaga Imunitas di Musim Hujan
Ony Setiawan, mengingatkan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, perubahan iklim dan cuaca ekstrem berpotensi memicu kegagalan produksi di berbagai sektor.
“Cuaca yang tidak menentu ini jelas berdampak pada potensi kegagalan panen. Nelayan juga tidak bisa melaut,” kata legislator Jatim asal Dapil Bojonegoro-Tuban itu.
Di sektor pertanian, Ony menyoroti dampak siklon tropis yang memengaruhi curah hujan. Kondisi tersebut berimbas langsung pada waktu tanam dan hasil panen petani.
“Ini bukan hanya soal benih. Pupuk, tenaga kerja, dan waktu tanam ikut terganggu. Banyak petani akhirnya rugi,” tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Tuban tersebut.
Tak hanya di wilayah selatan Jawa, dampak cuaca ekstrem juga dirasakan di wilayah utara. Pergerakan angin barat melalui sisi utara Pulau Jawa hingga Selat Bali menyebabkan kawasan Pantura turut diterpa angin ribut.
Hal serupa juga terjadi di sektor perikanan dan peternakan. Cuaca ekstrem membuat nelayan terpaksa berhenti melaut, sementara hasil ternak ikut terdampak.
Baca Juga : Satu Korban Pesawat ATR Ditemukan di Jurang Gunung Bulusaraung, Operasi SAR Hadapi Medan Ekstrem
“Kalau pemerintah tidak mampu mengantisipasi dampak alam ini, rakyat Jawa Timur akan mengalami kesulitan ekonomi,” papar Ony.
Ia menegaskan, pemerintah harus memiliki sistem peringatan dini dan skenario bantuan yang jelas jika terjadi kegagalan produksi, baik bagi petani maupun nelayan. Dia memastikan, jika terjadi puso atau gagal panen, penggantian benih akan tetap dilakukan.
“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” urainya.
Namun, Ony mengingatkan bahwa penyelesaian persoalan produksi tidak bisa parsial. Diperlukan langkah cepat, tepat, dan terkoordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. “Pemprov Jawa Timur harus punya program mitigasi bencana yang konkret,” pungkasnya.
