Awal Puasa 2026 Bisa Beda? Ini Perkiraan Versi NU, Muhammadiyah, Pemerintah, dan BRIN

07 - Feb - 2026, 02:07

Ilustrasi puasa Ramadan. (Foto Pixabay)

JATIMTIMES - Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026 kembali berpotensi menghadirkan perbedaan di Indonesia. Situasi ini bukan hal baru, namun tahun ini peluang perbedaan dinilai cukup besar karena perbedaan pendekatan dalam menentukan posisi hilal.

Sejumlah pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga peneliti astronomi, menggunakan metode yang berbeda dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Hasilnya, tanggal 1 Ramadan 1447 H diperkirakan bisa jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026.

Baca Juga : Bansos PKH dan BPNT Tahap Awal 2026 Cair! Telat Ambil 30 Hari, Dana Bisa Hangus dan Dicoret dari Penerima

Sumber Perbedaan: Hilal Lokal vs Global

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa perbedaan kali ini bukan karena data astronomi yang berbeda, melainkan pada kriteria yang dipakai.

“Potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H cukup besar. Bukan karena data astronominya berbeda, tetapi karena kriteria yang digunakan, apakah berbasis wilayah lokal atau global,” jelas Thomas Djamaluddin, dikutip dari detik.com Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, ada dua pendekatan utama:

• Hilal lokal → mensyaratkan hilal harus mungkin terlihat di wilayah Indonesia.

• Hilal global → cukup jika hilal sudah memenuhi kriteria visibilitas di belahan dunia mana pun.

Pada saat magrib 17 Februari 2026, posisi bulan di Indonesia masih berada di bawah ufuk. Artinya, jika memakai pendekatan hilal lokal, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.

Namun dengan pendekatan global, hilal pada tanggal tersebut sudah memenuhi syarat di wilayah lain. Karena itu, awal Ramadan bisa ditetapkan lebih awal, yaitu 18 Februari 2026.

Pemerintah Tunggu Sidang Isbat

Penetapan resmi awal puasa di Indonesia tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama RI, yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Februari 2026.

Berdasarkan prakiraan posisi hilal saat matahari terbenam hari itu, ketinggian bulan di seluruh wilayah Indonesia masih negatif (di bawah ufuk). Secara rukyat, hilal diperkirakan belum dapat terlihat.

Indonesia sendiri menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS, yaitu:

• Tinggi hilal minimal 3 derajat

• Elongasi minimal 6,4 derajat

Pada 18 Februari 2026, posisi hilal diperkirakan sudah berada cukup tinggi di atas horizon dan secara teori memenuhi kriteria visibilitas. Karena itu, jika mengikuti standar ini, awal Ramadan kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Muhammadiyah: Puasa Mulai 18 Februari 2026

Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadan. Melalui metode hisab hakiki dan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal, organisasi ini menentukan bahwa:

Baca Juga : Alur Kedatangan, Parkir hingga Kepulangan Jemaah Mujahadah Kubro di Malang

• 1 Ramadan 1447 H = Rabu, 18 Februari 2026

Metode ini sejalan dengan pendekatan hilal global, sehingga tidak bergantung pada hasil rukyat di Indonesia.

NU Menunggu Hasil Rukyat

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu hasil rukyatul hilal menjelang akhir Syaban. Tradisi NU menekankan pengamatan langsung sebagai bagian penting penentuan awal bulan.

Meski begitu, berdasarkan kalender internal NU, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan pendekatan hilal lokal.

Dari berbagai pendekatan tersebut, ada dua kemungkinan tanggal awal puasa 2026:

• 18 Februari 2026 → versi Muhammadiyah (hilal global)

• 19 Februari 2026 → kemungkinan pemerintah dan NU (hilal lokal)

Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi nasional, sambil tetap saling menghormati perbedaan metode penetapan yang digunakan masing-masing pihak.